LANGIT7.ID, Jakarta - Tim Nasional (Timnas) Indonesia bakal melakoni babak final leg pertama Piala AFF Suzuki Cup 2020 melawan Thailand tanpa sosok Pratama Arhan. Bek kiri itu dipastikan absen karena mendapatkan akumulasi kartu.
Mengutip situs resmi Piala AFF, kartu kuning pertama Arhan didapatkan saat babak semifinal leg pertama kontra Singapura. Sementara pada leg kedua, situs resmi AFF awalnya tidak mencantumkan kartu kuning untuk Arhan.
Baca juga: Shin Tae-yong Punya Cara Kalahkan Thailand di FinalTetapi, pihak penyelenggara mengkoreksi ulang dan menyatakan Arhan mendapatkan kartu kuning di leg kedua saat melanggar Ikshan Fandi yang berujung pada pemberian penalti untuk Singapura. Atas dua koleksi kartu kuning itu, Pratama Arhan harus absen di final leg pertama.
"Tentu saja itu kerugian besar karena kontribusi Pratama Arhan terbukti sangat dibutuhkan Indonesia dalam bertahan dan menyerang. Pelatih Shin Tae-yong jelas harus memikirkan hal ini secara matang. Pilihannya bisa memainkan Edo Febriansyah seperti ketika menghadapi Laos," kata pengamat sepak bola nasional, Weshley Hutagalung saat dikonfirmasi Langit7, Selasa (28/12).
Bung Wes, sapaan akrabnya, mengatakan jika Edo menjadi pilihan yang paling memungkinkan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Arhan. Hanya saja, gaya bermain Edo dan Arhan memang sangat jauh berbeda.
Baca juga: Pratama Arhan Absen Lawan Thailand, Shin Tae-yong Susun Skenario Lain"Tapi, tentu saja pemilihan Edo masuk skuat timnas oleh Shin Tae-yong bukan tanpa sebab. Penugasan di lini tengah sebagai pelapis ketika bek kiri naik menyerang pasti ada perubahan dengan ketidakhadiran Pratama," jelasnya.
Mengenai ketidakhadiran kiper Thailand, Chatchai Burdprom, Bung Wes tidak melihat itu sebagai keuntungan bagi timnas Indonesia. Minimnya gawang Thailand kebobolan lebih disebabkan karena solidnya lini pertahanan tim.
"Siwarak Tedsungnoen adalah kiper senior, berpengalaman dan berprestasi di klub walau di Piala AFF ini menjadi pelapis Chatchai. Saya rasa tak banyak pengaruhnya bagi tim Thailand dengan menurunkan kiper berusia 37 tahun itu, karena pertahanan Thailand cukup rapat. Belajar dari Vietnam, kita butuh banyak pelanggaran di luar kotak penalti dan eksekutor bola-bola mati sebagai alternatif mencetak gol," kata Bung Wes.
Baca juga: Alexandre Polking: Timnas Indonesia Sangat Agresif dan Berbahaya(asf)