LANGIT7.ID, Jakarta - Pada 1930-an, terdapat 35 mahasiswa muslim dari China datang belajar di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Kelak mereka ditakdirkan memainkan peran penting dalam sejarah Islam China modern.
Mahasiswa ini membantu China membangun hubungan dengan Mesir dan negara-negara muslim di Timur Tengah. Mereka juga meninggalkan warisan budaya yang cukup besar, seperti terjemahan teks-teks penting dari tradisi Islam dan China.
Saat kembali ke Tiongkok, banyak dari mereka yang menjadi pemimpin intelektual dan politik komunitas Hui. Peran itu mereka mainkan di Tiongkok daratan dan Taiwan setelah pembentukan dua negara Tiongkok pada 1949.
Baik Republik Tiongkok maupun Republik Rakyat Cina memanfaatkan alumni Al-Azhar itu dalam tujuan diplomasi. Namun terlepas dari kewarganegaraan mereka pasca-1949, mereka tetap setiap membawa misi dakwah Islam.
Mereka menjadikan ajaran Islam untuk mendamaikan komponen Islam dan Cina dari identitas Hui dan menggunakan sumber daya dari kedua peradaban untuk kepentingan seluruh negara-bangsa Cina.
Perintis YunnanMa Dexin (1794-1874), sarjana Islam terkenal dari Yunnan pernah mengunjungi Al-Azhar dan belajar di sana. Dia mencatat kunjungan itu dalam buku karyanya,
Record of the Ziarah Journey (
Chaojin Tuji).
Murid Ma Dexin yakni Ma Lianyuan (1841-1903) mengikuti jejak sang guru dan belajar di Al-Azhar pada 1870-an. Dari fakta tersebut, tidak heran jika komunitas muslim Yunnan berada di garis depan upaya Muslim Tiongkok untuk mengirim siswa ke Al-Azhar.
Namun sebenarnya cendekiawan Hui pada 1920-an sudah berkunjung ke Al-Azhar, terutama Imam Wang Jingzhai dari Tianjin dan Ha Decheng dari Shanghai. Baru pada 1930-an, komunitas Yunnan dari Chinese Islamic Progressive Asosiasi (Zhongguo Hujiao Jujinhui) mengirim mahasiswa ke Al-Azhar.
Asosiasi itu meminta bantuan alumni Al-Azhar asal Afghanistan, Daja Muhammad, agar otoritas Al-Azhar mau menerima mahasiswa dari Yunnan. Mahasiswa yang berangkat ke Mesir pada akhir 1931, dua orang di antaranya menjadi sarjana Cina terkemuka di bidang ilmu Islam dan budaya Arab: Ma Jian (1906-1978) dan Na Zhong (1909-2008).
Selama di Kairo, Ma Jian juga menerjemahkan Risalat al-Tawhid dan Tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Pada 1939, Ma kembali ke Tiongkok dan menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Mandarin.
Lalu, pada 1946, ia menjadi profesor studi Arab dan Islam di Departemen Bahasa dan Sastra Timur di Universitas Peking, universitas negeri Cina pertama yang memperkenalkan jurusan bahasa Arab.
Setelah pendirian RRC, Ma Jian terpilih menjadi anggota Konferensi Konsultatif Politik Tiongkok (CPCC) pada 1949. Ia meninggal pada 1976.
Hubungan Yunnan yang kuat dengan Al-Azhar membuat banyak mahasiswa muslim Cina berangkat ke Mesir. Selain lima anggota kelompok awal, lima lagi mengikuti sebagai anggota dari empat delegasi berikutnya, satu kelompok pada 1932, dua pada 1934, dan yang terbesar pada tahun 1938.
Lulusan Al-Azhar dari Sekolah Muslim Cina TimurMengikuti perintis Yunnan, kelompok muslim di Cina Timur yang berpusat di sekitar sekolah di Beijing (Sekolah Normal Chengda) dan Shanghai (Sekolah Normal Islam Shanghai) juga mengirim mahasiswa ke Al-Azhar. Dua lembaga itu masing-masing didirikan pada 1925 dan 1928.
Sebenarnya, kelompok musim di Cina Timur memiliki hubungan erat dengan Yunnan. Ma Jian belajar di sekolah Shanghai dari 1929 hingga 1931 dan mengenal rektor sekolah Chengda, Imam Ma Songting (1895-1992).
Pada 1932, rombongan pertama dari lima mahasiswa Chengda berangkat ke Mesir dengan ditemani oleh Ma Songting, yang tidak hanya bertemu dengan Rektor Al-Azhar, Muhammad al-Ahmadi al-Zawahiri, tetapi juga dengan Raja Fuad.
Raja berjanji untuk melindungi para mahasiswa Cina yang mengunjungi Al-Azhar. Dia juga memutuskan untuk mengirim dua Syaikh Al-Azhar untuk mengajar di Chengda, di mana mereka tinggal selama empat tahun sampai invasi Jepang pada 1937.
Selama pertemuannya pada 1932 di Kairo, Ma Songting diberikan lebih dari 400 buku berbahasa Arab, yang menjadi inti koleksi perpustakaan Chengda. Sebuah bangunan khusus didirikan antara 1934 dan 1936 di halaman Masjid Dongsi (kursi Chengda) untuk menampung koleksi yang terus bertambah.
Perpustakaan dinamai Perpustakaan Fude (Fuad) untuk menghormati mendiang raja, yang meninggal pada April 1936. Pada akhir 1936, Ma Songting mengunjungi Mesir lagi untuk bertemu dengan putra dan penerus Fuad, Raja Farouk remaja, yang menaruh minat besar pada Muslim Tionghoa dan berjanji untuk menutupi biaya perjalanan dan kuliah di Al-Azhar untuk 20 siswa Tionghoa.
Pada 1939, mahasiswa Cina dari Al-Azhar mengorganisir misi haji. Pada tahun yang sama, sebuah konsulat Cina didirikan di Jeddah, dan Wang Shiming (1910-1997), lulusan Al-Azhar dan anggota kelompok Chengda 1932, ditunjuk sebagai wakil konsul.
Sumber: mei.edu(jqf)