Potensi Bisnis Ternak Puyuh di Indonesia Sangat Menjanjikan
Amar faisal haidar
Senin, 24 Januari 2022 - 20:40 WIB
Slamet Wuryadi (kanan) Ketua Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia (APPI) saat menerima kunjungan calon peternak puyuh di Sukabumi, Jawa Barat. (foto: amar faisal)
Budi daya puyuh merupakan salah satu potensi bisnis yang sangat menjanjikan di Indonesia. Pasalnya, unggas penghasil telur terbesar kedua setelah ayam petelur itu masing memiliki ceruk yang bisa dimasuki karena pasokan yang ada belum mencukupi permintaan pasar yang terus meningkat.
Ketua Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia (APPI) Slamet Wuryadi, mengungkapkan, saat ini populasi puyuh di Indonesia baru berkisar 15 juta, atau hanya 5,3% jika dibandingkan dengan total populasi penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta jiwa.
“Jadi kalau melihat dari angka ini saja, sebetulnya potensi bisnis budi daya puyuh sangat prospektif. Karena demand (permintaan) jauh lebih tinggi dibandingkan supply (persediaan) nya,” ujar Slamet Wuryufi saat dihubungi Langit7, Senin (24/1/2022).
Baca juga:Dua Tahun Pandemi, Usaha Pengrajin Bambu Ini Mulai Banjir Orderan
Pria yang dijuluki sebagai Profesor Puyuh Indonesia ini sudah membuktikan sendiri. Bahkan berkat budi daya puyuh yang dijalankannya secara tekun dan konsisten sejak tahun 1992 itu, kini Slamet telah memiliki aset hingga Rp36 miliar.
“Saya masih ingat betul harga telur puyuh waktu itu hanya Rp32 per butir. Namun karena saya melihat potensinya besar, maka saya tekuni terus dan alhamdulillah sekarang harga telur puyuh naik dan bertahan di pasar nasional,” ungkap Slamet.
Menurutnya telur puyuh dapat memberi penghasilan sebesar Rp100 per butir telur per hari. Maka tinggal dikalikan saja dengan populasi puyuh yang dimiliki, dengan asumsi puyuh mengeluarkan telur sebanyak 2-3 butir per hari. Tentu saja hasilnya sangat menjanjikan.
Ketua Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia (APPI) Slamet Wuryadi, mengungkapkan, saat ini populasi puyuh di Indonesia baru berkisar 15 juta, atau hanya 5,3% jika dibandingkan dengan total populasi penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta jiwa.
“Jadi kalau melihat dari angka ini saja, sebetulnya potensi bisnis budi daya puyuh sangat prospektif. Karena demand (permintaan) jauh lebih tinggi dibandingkan supply (persediaan) nya,” ujar Slamet Wuryufi saat dihubungi Langit7, Senin (24/1/2022).
Baca juga:Dua Tahun Pandemi, Usaha Pengrajin Bambu Ini Mulai Banjir Orderan
Pria yang dijuluki sebagai Profesor Puyuh Indonesia ini sudah membuktikan sendiri. Bahkan berkat budi daya puyuh yang dijalankannya secara tekun dan konsisten sejak tahun 1992 itu, kini Slamet telah memiliki aset hingga Rp36 miliar.
“Saya masih ingat betul harga telur puyuh waktu itu hanya Rp32 per butir. Namun karena saya melihat potensinya besar, maka saya tekuni terus dan alhamdulillah sekarang harga telur puyuh naik dan bertahan di pasar nasional,” ungkap Slamet.
Menurutnya telur puyuh dapat memberi penghasilan sebesar Rp100 per butir telur per hari. Maka tinggal dikalikan saja dengan populasi puyuh yang dimiliki, dengan asumsi puyuh mengeluarkan telur sebanyak 2-3 butir per hari. Tentu saja hasilnya sangat menjanjikan.