Smart City dalam Perspektif Islam, Belajar dari Negeri Saba'
Redaksi
Kamis, 27 Januari 2022 - 05:07 WIB
Ilustrasi negeri Saba (foto: langit7.id/istock)
Konsep smart city tidak cukup dengan mengandalkan basis teknologi, bahkan di era yang lebih canggih dari era saat ini sekalipun. Basis agama dan budaya (kearifan lokal) adalah basis utama dan abadi yang harus terus ditempel untuk mengawal jiwa dan akal budi manusia agar tetap pada rel kebaikan dan kemaslahatan.
Oleh:Dr. Johansyah, MA*
Beberapa waktu terakhir, kita mungkin pernah mendengar istilah smart city, atau kota cerdas. Apa itu kota cerdas? Beberapa sumber menjelaskan bahwa Kota Cerdas adalah kota yang menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan performance-nya, mengurangi biaya dan pemakaian konsumsi, serta untuk terlibat lebih aktif dan efektif dengan warganya.
Sedikitnya ada tiga faktor yang berpengaruh dalam Kota Cerdas, yaitu cerdas ekonomi, cerdas sosial, dan cerdas lingkungan. Kota Cerdas (smart city) juga didefinisikan sebagai kota yang mampu menggunakan SDM, modal sosial, dan infrastruktur telekomunikasi modern untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kualitas kehidupan yang tinggi, dengan manajemen sumber daya yang bijaksana melalui pemerintahan berbasis partisipasi masyarakat (Caragliu, A., dkk dalam Schaffers,2010:3).
Smart city atau kota cerdas merupakan wilayah kota yang telah mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi dalam tata kelola sehari-hari dengan tujuan untuk mempertinggi efisiensi, memperbaiki pelayanan publik, dan meningkatkan kesejahteraan warga. Kota cerdas merupakan sebuah visi pengembangan perkotaan untuk mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi dan teknologi Internet of things dengan cara yang aman untuk mengelola aset kota.
Terlepas dari basis teknologi informasi dalam membangun smart city, jika kita kembali pada era madinah ketika Rasulullah SAW masih hidup, maka kota cerdas ini pada era dulu sepadan dengan masyarakat madani, yakni masyarakat yang berperadaban.
Oleh:Dr. Johansyah, MA*
Beberapa waktu terakhir, kita mungkin pernah mendengar istilah smart city, atau kota cerdas. Apa itu kota cerdas? Beberapa sumber menjelaskan bahwa Kota Cerdas adalah kota yang menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan performance-nya, mengurangi biaya dan pemakaian konsumsi, serta untuk terlibat lebih aktif dan efektif dengan warganya.
Sedikitnya ada tiga faktor yang berpengaruh dalam Kota Cerdas, yaitu cerdas ekonomi, cerdas sosial, dan cerdas lingkungan. Kota Cerdas (smart city) juga didefinisikan sebagai kota yang mampu menggunakan SDM, modal sosial, dan infrastruktur telekomunikasi modern untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kualitas kehidupan yang tinggi, dengan manajemen sumber daya yang bijaksana melalui pemerintahan berbasis partisipasi masyarakat (Caragliu, A., dkk dalam Schaffers,2010:3).
Smart city atau kota cerdas merupakan wilayah kota yang telah mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi dalam tata kelola sehari-hari dengan tujuan untuk mempertinggi efisiensi, memperbaiki pelayanan publik, dan meningkatkan kesejahteraan warga. Kota cerdas merupakan sebuah visi pengembangan perkotaan untuk mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi dan teknologi Internet of things dengan cara yang aman untuk mengelola aset kota.
Terlepas dari basis teknologi informasi dalam membangun smart city, jika kita kembali pada era madinah ketika Rasulullah SAW masih hidup, maka kota cerdas ini pada era dulu sepadan dengan masyarakat madani, yakni masyarakat yang berperadaban.