Potensi dan Tantangan Besar dari Zakat dan Wakaf
Mahmuda attar hussein
Kamis, 27 Januari 2022 - 18:30 WIB
Ilustrasi zakat. Foto: Langit7/Istock
Islamic social finance atau keuangan sosial Islam memiliki potensi yang besar dalam pembangunan Indonesia, terutama dalam sektor ekonomi.
Walaupun mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19, keuangan sosial Islam masih memiliki berbagai tantangan. Hal itu yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan keuangan Islam di Tanah Air.
Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, Irfan Syauqi Beik mengatakan, literasi soal keuangan Islam, seperti zakat masih menjadi masalah fundamental.
Baca juga: Berpengalaman, Erick Thohir Instruksikan Zakat di BUMN Dikelola BAZNAS
Untuk mengatasi hal ini, kata dia, diperlukan peningkatan literasi zakat. Hal itu dilakukan demi memanfaatkan dana sosial seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) secara optimal.
"Harapannya masyarakat tidak lagi menjadikan Ziswaf sebagai beban, tapi juga kebutuhan. Jadi narasi mengajak semangat berbagi, dan narasi berbagi dengan keikhlasan itu perlu kita kembangkan," ujarnya di Webinar Peran Islamic Filantrophy dalam Mendukung Pendapaian Sustainable Development Goals, Kamis (27/1).
Apalagi, kata dia, desain program zakat dan wakaf segaris lurus dengan pengembangan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Namun begitu, SDGs perlu dibedah lebih lanjut untuk bisa menyesuaikan dengan alur ketentuan yang ada pada zakat dan wakaf.
Walaupun mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19, keuangan sosial Islam masih memiliki berbagai tantangan. Hal itu yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan keuangan Islam di Tanah Air.
Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, Irfan Syauqi Beik mengatakan, literasi soal keuangan Islam, seperti zakat masih menjadi masalah fundamental.
Baca juga: Berpengalaman, Erick Thohir Instruksikan Zakat di BUMN Dikelola BAZNAS
Untuk mengatasi hal ini, kata dia, diperlukan peningkatan literasi zakat. Hal itu dilakukan demi memanfaatkan dana sosial seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) secara optimal.
"Harapannya masyarakat tidak lagi menjadikan Ziswaf sebagai beban, tapi juga kebutuhan. Jadi narasi mengajak semangat berbagi, dan narasi berbagi dengan keikhlasan itu perlu kita kembangkan," ujarnya di Webinar Peran Islamic Filantrophy dalam Mendukung Pendapaian Sustainable Development Goals, Kamis (27/1).
Apalagi, kata dia, desain program zakat dan wakaf segaris lurus dengan pengembangan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Namun begitu, SDGs perlu dibedah lebih lanjut untuk bisa menyesuaikan dengan alur ketentuan yang ada pada zakat dan wakaf.