Olimpiade Tokyo 2020: Gelaran Pesta Olahraga Termahal dalam Sejarah
Ilham anugrah
Ahad, 25 Juli 2021 - 19:50 WIB
Petenis Jepang Naomi Osaka berpose seusai menyalakan api di kaldron saat pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 di Stadion Nasional,Tokyo, Jepang, Jumat (23/7/2021). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/rwa.
Sebuah studi Oxford menyebutkan Olimpiade Tokyo 2020 merupakan gelaranpesta olahraga dunia termahal dalam sejarah. Bengkaknya biaya operasional sebetulnya sudah diperkirakan sejak tahun lalu.
Penundaan Olimpiade selama setahun diperkirakan merugikan Jepang sebesar 2,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp40,3 triliun yang dua pertiganya dibayar menggunakan dana publik. Bahkan, Dewan Audit Nasional Jepang sempat melaporkan biaya akhir penyelenggaraan Olimpiade melebihi 22 miliar dolar AS (Rp316 triliun).
Surat kabar Nikkei dan Asahi mengklaim, biaya akhir penyelenggaraan Olimpiade sebenarnya akan mencapai 28 miliar dolar AS (Rp403 triliun). Tokyo menjadi salah satu contoh tuan rumah yang harusnya belajar dari kota-kota sebelumnya terkait besarnya biaya Olimpiade.
Hamburg misalkan,saat itu berani menolak tawaran Olimpiade diadakan. Mereka mengetahui konsekuensi keuangan bisa sangat mengerikan setelah mengadakan pertandingan.
Penelitian yang dilakukan The University of Oxford pada 2016 dan situs Play The Game menunjukkan besarnya biaya operasional yang dilakukan tuan rumah Olimpiade selama bertahun-tahun. Seperti, Montreal pada 1976 yang mengalami kelebihan anggaran 720 persen dan Barcelona pada 1992 yang mengalami pembengkakan biaya hingga 266 persen.
Dalam beberapa penyelenggaraan terakhir, Olimpiade 2016 di Rio menelan biaya di bawah 14 miliar dolar AS (Rp201 triliun), sementara Olimpiade London 2012 tagihan pengeluaran gelaran di bawah 15 miliar dolar AS (Rp216 triliun). Begitu juga Olimpiade ,usim dingin 2014 di Rusia menelan biaya $21,89 miliar dolar AS (Rp315,2 triliun) atau kelebihan biaya 289 persen.
Rugi akibat ditunda
Penundaan Olimpiade selama setahun diperkirakan merugikan Jepang sebesar 2,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp40,3 triliun yang dua pertiganya dibayar menggunakan dana publik. Bahkan, Dewan Audit Nasional Jepang sempat melaporkan biaya akhir penyelenggaraan Olimpiade melebihi 22 miliar dolar AS (Rp316 triliun).
Surat kabar Nikkei dan Asahi mengklaim, biaya akhir penyelenggaraan Olimpiade sebenarnya akan mencapai 28 miliar dolar AS (Rp403 triliun). Tokyo menjadi salah satu contoh tuan rumah yang harusnya belajar dari kota-kota sebelumnya terkait besarnya biaya Olimpiade.
Hamburg misalkan,saat itu berani menolak tawaran Olimpiade diadakan. Mereka mengetahui konsekuensi keuangan bisa sangat mengerikan setelah mengadakan pertandingan.
Penelitian yang dilakukan The University of Oxford pada 2016 dan situs Play The Game menunjukkan besarnya biaya operasional yang dilakukan tuan rumah Olimpiade selama bertahun-tahun. Seperti, Montreal pada 1976 yang mengalami kelebihan anggaran 720 persen dan Barcelona pada 1992 yang mengalami pembengkakan biaya hingga 266 persen.
Dalam beberapa penyelenggaraan terakhir, Olimpiade 2016 di Rio menelan biaya di bawah 14 miliar dolar AS (Rp201 triliun), sementara Olimpiade London 2012 tagihan pengeluaran gelaran di bawah 15 miliar dolar AS (Rp216 triliun). Begitu juga Olimpiade ,usim dingin 2014 di Rusia menelan biaya $21,89 miliar dolar AS (Rp315,2 triliun) atau kelebihan biaya 289 persen.
Rugi akibat ditunda