home sosok muslim

Dr Muhammad Ardiansyah, Ulama Muda yang Mempertahankan Tradisi Ngaji ala Betawi

Senin, 26 Juli 2021 - 15:00 WIB
Dr Muhammad Ardiansyah saat belajar ke salah satu gurunya KH Ahmad Musthofa bin KH Abdurrahman Tua, Kp. Melayu (foto: dok pribadi)
Islam dan Betawi memiliki keterkaitan yang sangat erat. Bahkan dalam lagu yang populer seperti lagu Si Doel Anak Sekolahan disebut “anak Betawi kerjaannye, sembahyang mengaji”. Lagu Itu menggambarkan tradisi belajar anak-anak betawi memperdalam ilmu agama kepada para ulama Betawi.

Tradisi menuntut ilmu di Betawi agak berbeda dengan di daerah lain di Jawa. Kalau di Jawa, tradisi menuntut ilmu yang mendalam biasanya dilakukan di pondok pesantren. Di Betawi, selain di pesantren, ada juga tradisi anak-anak muda mendatangi rumah ulama yang disebut Guru untuk mengaji.

Maka tak heran, hari ini masih kerap terdengar Guru-guru yang masyhur di kalangan masyarakat Betawi seperti Guru Manshur Jembatan Lima, Guru Majid Pekojan, hingga Guru Marzuki Muara. Sebutan itu menyimpan perjalanan sejarah masing-masing.

Di tengah gempuran teknologi informasi dan kemudahan-kemudahan mengakses informasi tentang agama, tradisi itu masih berusaha dipertahankan. Meski tak banyak anak muda Betawi yang menerapkan tradisi tersebut dalam memperdalam ilmu agama, namun ada satu sosok ulama muda yang menjaga tradisi tersebut dengan ngaji langsung kepada para Ulama di Betawi. Ia adalah Dr Muhammad Ardiansyah.

Pria kelahiran Jakarta, 23 Mei 1983 itu mengemban amanah sebagai Direktur Pondok Pesantren at-Taqwa Depok. Selain itu, dia didapuk menjadi dosen di Program Pascasarjana Institut Agama Islam Darullughah wad Da’wah (IAI-DALWA), Bangil, dan Guru di Pesantren Mahasiswa (PESMA) al-Hikam, Depok.

Sejak kecil, Ardiansyah sudah mengenal dan mengaji kitab-kitab ulama termasuk kitab-kitab Imam al-Ghazali di hadapan para guru itu. Ardi kecil selalu diantar ke rumah Guru-Guru ngaji kampung di dekat rumah. Ia belajar membaca Alquran, baca kitab Arab-Melayu, ngaji akidah, fikih, tasawuf, dan ilmu pendukung lain seperti Bahasa Arab. Bahkan, ia juga belajar ilmu silat dari beberapa Guru. Sosok yang akrab disapa Ustadz Ardi ini berbagi pengalaman kepada LANGIT7.ID saat belajar ke ulama-ulama Betawi.

“Jadi, tradisi ngajinya ya nggak mondok. Datang pas waktu ngaji, setelah itu pulang ke rumah lagi. Tapi masalah adab tetap ditanamkan sebagaimana mereka yang mondok. Misalnya, cium tangan guru, khidmah kepada guru, dan sebagainya. Saya pribadi, kenyang khidmah kepada Guru-guru selama ngaji dulu. Jadi meski nggak mondok, hubungan antara Guru dan murid bisa tetap dekat, karena sehari-hari kami ketemu, dan sering bantu guru di rumahnya,” tutur Ustadz Ardi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
profil ulama mengaji ulama betawi betawi
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya