LANGIT7.ID, Jakarta - Islam dan Betawi memiliki keterkaitan yang sangat erat. Bahkan dalam lagu yang populer seperti lagu Si Doel Anak Sekolahan disebut
“anak Betawi kerjaannye, sembahyang mengaji”. Lagu Itu menggambarkan tradisi belajar anak-anak betawi memperdalam ilmu agama kepada para ulama Betawi.
Tradisi menuntut ilmu di Betawi agak berbeda dengan di daerah lain di Jawa. Kalau di Jawa, tradisi menuntut ilmu yang mendalam biasanya dilakukan di pondok pesantren. Di Betawi, selain di pesantren, ada juga tradisi anak-anak muda mendatangi rumah ulama yang disebut Guru untuk mengaji.
Maka tak heran, hari ini masih kerap terdengar Guru-guru yang masyhur di kalangan masyarakat Betawi seperti Guru Manshur Jembatan Lima, Guru Majid Pekojan, hingga Guru Marzuki Muara. Sebutan itu menyimpan perjalanan sejarah masing-masing.
Di tengah gempuran teknologi informasi dan kemudahan-kemudahan mengakses informasi tentang agama, tradisi itu masih berusaha dipertahankan. Meski tak banyak anak muda Betawi yang menerapkan tradisi tersebut dalam memperdalam ilmu agama, namun ada satu sosok ulama muda yang menjaga tradisi tersebut dengan ngaji langsung kepada para Ulama di Betawi. Ia adalah Dr Muhammad Ardiansyah.
Pria kelahiran Jakarta, 23 Mei 1983 itu mengemban amanah sebagai Direktur Pondok Pesantren at-Taqwa Depok. Selain itu, dia didapuk menjadi dosen di Program Pascasarjana Institut Agama Islam Darullughah wad Da’wah (IAI-DALWA), Bangil, dan Guru di Pesantren Mahasiswa (PESMA) al-Hikam, Depok.
Sejak kecil, Ardiansyah sudah mengenal dan mengaji kitab-kitab ulama termasuk kitab-kitab Imam al-Ghazali di hadapan para guru itu. Ardi kecil selalu diantar ke rumah Guru-Guru ngaji kampung di dekat rumah. Ia belajar membaca Alquran, baca kitab Arab-Melayu, ngaji akidah, fikih, tasawuf, dan ilmu pendukung lain seperti Bahasa Arab. Bahkan, ia juga belajar ilmu silat dari beberapa Guru. Sosok yang akrab disapa Ustadz Ardi ini berbagi pengalaman kepada LANGIT7.ID saat belajar ke ulama-ulama Betawi.
“Jadi, tradisi ngajinya ya nggak mondok. Datang pas waktu ngaji, setelah itu pulang ke rumah lagi. Tapi masalah adab tetap ditanamkan sebagaimana mereka yang mondok. Misalnya, cium tangan guru, khidmah kepada guru, dan sebagainya. Saya pribadi, kenyang khidmah kepada Guru-guru selama ngaji dulu. Jadi meski nggak mondok, hubungan antara Guru dan murid bisa tetap dekat, karena sehari-hari kami ketemu, dan sering bantu guru di rumahnya,” tutur Ustadz Ardi.
Meski tidak
mondok, Ustadz Ardi sudah banyak mengaji ke Guru-Guru terkenal di Kampung Melayu Kecil. Di antaranya Ustadz Mas'ud (alm), Ustadz Mujtaba (alm), Ustadz Agus Firdaus, KH Ahmad Musthofa ibn KH Abdurrahman Tua, KH Abdillah (alm), KH Jamaluddin Abdullah dan banyak ulama lainnya.
“Dulu, saya rutin ngaji ke Guru-guru ini. Berhenti ngajinya karena Guru-guru itu wafat. Jadi selama belum wafat, ya saya ngaji terus. Adapun saat ini, saya sudah tinggal di Depok, ada amanah mimpin pondok. Jadinya ga bisa rutin ngaji seperti dulu. Guru-guru saya juga memaklumi. Tapi saya masih tetap rutin silaturrahim baik untuk konsultasi, minta nasehat, doa atau sekedar mau ngobrol saja melepas rindu,”tutur beliau.
Melalui KH Jamaluddin Abdullah, Ustadz Ardi kerap diajak belajar ke majlis KH Muhammad Syafi'i Hadzami, Guru Ulama se-Jakarta dan akrab dipanggil Muallim. Dia juga pernah duduk menimba ilmu di Majelis yang diasuh KH Saifuddin Amsir. Dia juga sempat ngaji kepada KH Maulana Kamal Yusuf, Paseban. Demikian pula kepada ke KH Ahmad Tibrizi di Kampung Pulo, Jakarta Timur.
Sampai hari ini, Ustadz Ardi masih menjaga tradisi Betawi dengan belajar ilmu nilai-nilai Islam kepada KH Ahmad Marwazi, murid dari Syekh Yaasin al-Fadani, Ahli Hadits besar keturunan Padang yang tinggal dan wafat di Mekkah.
Membina Pondok Pesantren
![Dr Muhammad Ardiansyah, Ulama Muda yang Mempertahankan Tradisi Ngaji ala Betawi]()
Sepak terjang Ustadz Ardi belajar ke ulama-ulama Betawi menjadikan beliau mapan secara keilmuan. Tak heran jika hari ini dia mengemban amanah besar dengan mengasuh Pondok Pesantren At-Taqwa Depok.
Di pesantren itu, dia mengadopsi sistem bandongan dan sorogan dalam mendidik santri. Di pesantren itu, dia mencoba memadukan, mengkombinasikan, dan mengintegrasikan antara khazanah Arab dan Melayu serta klasik dan kontemporer.
Pada dua tahun pertama, para santri dibekali penanaman adab yang baik, khususnya adab ilmu. Lalu masuk ke kajian ilmu-ilmu agama (ulumuddin) beserta ilmu-ilmu alat (nahwu-shorof). Kitab yang dipelajari ada yang berbahasa Arab dan ada yang berbahasa Melayu atau Jawi. Sehingga, santri kenal dengan ilmu-ilmu agama yang dasar dan kenal dengan ulama-ulama Nusantara seperti Habib Utsman bin Yahya, Raja Ali Haji, Syekh Abdusshomad al-Falimbani dll.
Kemudian dua tahun berikutnya, selain mengkaji kitab-kitab klasik, para santri dikenalkan dengan tantangan kontemporer. Pada tingkat ini santri mulai mempelajari Islamic Worldview, Gender dan Feminisme, Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme, dan sebagainya. Levelnya sebagai pengantar.
“Setidaknya mereka pernah dengar dan paham letak masalahnya serta bisa menjawabnya sebatas pemahamannya. Selain itu dikenalkan juga buku-buku Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas dan murid-muridnya. Ini sebagai bekal juga memahami tantangan Barat kontemporer,” ucap Ustadz Ardi.
Dua tahun terakhir, para santri memberikan pendalaman materi. Mulai dari Sejarah Filsafat Barat, Filsafat Barat dan Islam, Sains Islam, Mantiq (Logika), bahasa Latin dan sebagainya.
Ustadz Ardi menjelaskan, upaya tersebut dilatarbelakangi tantangan zaman yang berbeda dari sebelumnya. Menjaga akidah saat ini selain memahami kitab klasik para ulama, santri juga harus paham tantangan Barat modern, sehingga mampu menjawabnya. Ia tak ingin santri paham Islam, namun awam terhadap tantangan dunia islam modern.
“Jangan sampai mereka (orang Barat) paham Islam, sementara kita awam tentang mereka. Khawatirnya, nanti mereka bisa ngomong
what you know we know, what we know you don't know. Ape yang ente tau ane tau, tapi ape yang ane tau ente nggak tau,” ucap dia.
Ustadz Ardi ingin menunjukkan bahwa Islamisasi ilmu Kontemporer itu bukan sebatas wacana, tapi sudah berjalan dan tampak hasilnya, yaitu lahirnya manusia yang beradab dan berilmu yang benar. Manusia yang bisa adil menyikapi tantangan peradaban yang ada. Tidak antipati, tapi juga tidak permisif.
Pria yang pernah tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Indonesia dan lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) sudah menelurkan karya tulis seperti; Pantun Dakwah (2011), 10 Logika Liberal dan Jawabannya (2012), 20 Catatan kritis untuk Kaum Liberal (2013), Lâ Tansa: 30 renungan Inspiratif Penuh Hikmah (2013), al-Mafâtih al-Dzahabiyyah fî Qawâ‘id al-‘Arabiyyah (2015), Catatan Pendidikan (2016), Untaian Syair Baru Tentang Adab Murid dan Guru (2018), Qawâ‘id Tahbîqiyyah li Qirâ’at al-Kutub al-‘Arabiyyah (2018), dan Otoritas Imam al-Ghazali dalam Ilmu Hadits: Satu Tinjauan yang Adil, cetakan I (2019).
Karya lainnya juga ada beberapa antara lain Catatan Pendidikan: Refleksi Tentang Nilai-nilai Adab dan Budaya Ilmu dalam Islam (2020), Pesan Pendidik Sejati : 40 Hadits Nabi Muhammad SAW untuk Buah Hati (2020), Konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Aplikasinya di Perguruan Tinggi (2020), Otoritas Imam al-Ghazali dalam Ilmu Hadits: Satu Tinjauan yang Adil, cetakan II lebih lengkap, (2021) dan Petunjuk Jalan Untuk Kembali, Tentang Pemikiran dan Sikap Ilmiah Imam al-Ghazali (2021).
Anak Betawi yang menjaga tradisi Ulama Betawi ini pernah mengikuti
Short Course Teaching English as a Second Language (TESL) di Thompson Rivers University, Kamloops, Canada (2011) dan menjadi pemateri di seminar, workshop, dan pelatihan dalam bidang pendidikan di berbagai daerah.
Adapun prestasi yang pernah dicapai antara lain menjadi juara II penulis skenario terbaik dalam ajang Festival Film Santri tingkat Nasional, yang diadakan MUI dan Kemenag tahun 2017. Lalu menjadi wisudawan terbaik Program Doktor Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor tahun 2018.
(jqf)