OKI Khawatirkan Sentimen Antimuslim Berkembang Cepat di Asia
Muhajirin
Sabtu, 19 Februari 2022 - 18:09 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Sentimen antimuslim di Asia berada pada tahap memprihatinkan. Muslim India dan Myanmar bisa menjadi contoh. Begitu pun penguasa-penguasa di Asia memperburuk keadaan tersebut.
Kepala Departemen Muslim dan Minoritas OKI, Hassan Abdein, mengatakan, Asia menjadi rumah baru kapitalisme meskipun jauh lebih beragam daripada tempat lain. Asia yang menampung ratusan etnis mengalami populisme elektoral, salah satu efek eksploitatif globalisasi.
Umat Islam kerap menjadi sasaran kekerasan di negara-negara berpenduduk minoritas muslim. “Baik di Myanmar dan Sri Lanka, kami melihat satu kelompok tertentu memobilisasi ujaran kebencian,” kata Abdein, merujuk pada biksu Buddha yang secara terbuka menyerukan genosida terhadap Muslim.
Umat Buddha menjadi minirotasi di negara-negara yang didominasi Hindu. Mereka merekayasa narasi korban untuk memobilisasi massa di negara-negara mayoritas Buddha, seperti Myanmar dan Sri Lanka.
Sentimen antimuslim ini juga terlihat di India, terutama pasca pelarangan hijab di berbagai universitas. Mantan Wakil Tetap Republik Islam Pakistan untuk PBB, Zamir Akram, mengatakan, meski lebih 200 juta muslim tinggal di India, namun tetap versi fasisme sedang berlangsung di tangan Hindutva.
Jutaan muslim mengalami diskriminasi agama dan ras, pembersihan etnis, kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan bahkan genosida. Pemerintah Modi di India terang-terangan mengampanyekan kebencian kepada umat Islam.
"Muslim menghadapi masalah dengan dalih penyembelihan sapi dan makan daging sapi, menikahi orang Hindu. Sementara serangan terhadap masjid, pemaksaan memeluk Hindu, penghapusan nama muslim dari jalan-jalan, penjualan wanita muslim secara online dan seruan terbuka untuk genosida terhadap muslim," Zamir, dikutip laman trtworld, Sabtu (19/2/2022).
Kepala Departemen Muslim dan Minoritas OKI, Hassan Abdein, mengatakan, Asia menjadi rumah baru kapitalisme meskipun jauh lebih beragam daripada tempat lain. Asia yang menampung ratusan etnis mengalami populisme elektoral, salah satu efek eksploitatif globalisasi.
Umat Islam kerap menjadi sasaran kekerasan di negara-negara berpenduduk minoritas muslim. “Baik di Myanmar dan Sri Lanka, kami melihat satu kelompok tertentu memobilisasi ujaran kebencian,” kata Abdein, merujuk pada biksu Buddha yang secara terbuka menyerukan genosida terhadap Muslim.
Umat Buddha menjadi minirotasi di negara-negara yang didominasi Hindu. Mereka merekayasa narasi korban untuk memobilisasi massa di negara-negara mayoritas Buddha, seperti Myanmar dan Sri Lanka.
Sentimen antimuslim ini juga terlihat di India, terutama pasca pelarangan hijab di berbagai universitas. Mantan Wakil Tetap Republik Islam Pakistan untuk PBB, Zamir Akram, mengatakan, meski lebih 200 juta muslim tinggal di India, namun tetap versi fasisme sedang berlangsung di tangan Hindutva.
Jutaan muslim mengalami diskriminasi agama dan ras, pembersihan etnis, kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan bahkan genosida. Pemerintah Modi di India terang-terangan mengampanyekan kebencian kepada umat Islam.
"Muslim menghadapi masalah dengan dalih penyembelihan sapi dan makan daging sapi, menikahi orang Hindu. Sementara serangan terhadap masjid, pemaksaan memeluk Hindu, penghapusan nama muslim dari jalan-jalan, penjualan wanita muslim secara online dan seruan terbuka untuk genosida terhadap muslim," Zamir, dikutip laman trtworld, Sabtu (19/2/2022).