Shamsi Ali Soroti Politisasi Agama dan Label Radikal terhadap Sebagian Ustadz
Mahmuda attar hussein
Rabu, 09 Maret 2022 - 10:55 WIB
Ilustrasi politisasi agama dan label radikal. (Foto: iStock).
Imam di Islamic Center of New York, Muhammad Syamsi Ali, menyoroti istilah politisasi agama. Cara ini bisa dipakai mereka yang ingin meraih kepentingan tertentu.
Dia mengatakan, kondisi ini membuat penilaian terhadap sesuatu atau seseorang tidak lagi berdasarkan nilai baik atau buruknya. Tapi lebih kepada kepentingan politik tertentu.
"Contoh kecil dalam busana misalnya. Betapa larisnya baju-baju koko dan kopiah di musim-musim politik untuk berkunjung ke masjid-masjid dan majelis ta'lim. Lalu politisi wanita yang selama ini alergi dengan hijab tiba-tiba berhijab rapih," kata Shamsi Ali Rabu (9/3/2022).
Baca Juga:Pengamat Terorisme Minta Rencana Pemetaan Masjid Dikaji Ulang
Kemudian muncul juga tuduhan-tuduhan ekstremisme atau radikalisme kerap digaungkan di musim-musim politik. Tujuannya tentu untuk menekan dan mengganjal pihak-pihak tertentu yang dianggap menimbulkan gangguan untuk mendapatkan kepentingan politiknya.
"Konsep moderasi atau radikalisme menjadi aneh dan membingungkan. Moderasi menjadi seperti yang sering saya sampaikan berbentuk moderasi sepihak dan radikalisme seperti dipaksakan," ujar dia.
"Saya kembali teringat peristiwa 9/11 di Amerika Serikat. Saat itu kata radikalisme atau ekstrimisme menjadi populer berdampingan dengan kata 'terror', sehingga peperangan yang disebut 'war on terror' tidak bisa dilepaskan dari peperangan kepada kaum radikal," katanya.
Dia mengatakan, kondisi ini membuat penilaian terhadap sesuatu atau seseorang tidak lagi berdasarkan nilai baik atau buruknya. Tapi lebih kepada kepentingan politik tertentu.
"Contoh kecil dalam busana misalnya. Betapa larisnya baju-baju koko dan kopiah di musim-musim politik untuk berkunjung ke masjid-masjid dan majelis ta'lim. Lalu politisi wanita yang selama ini alergi dengan hijab tiba-tiba berhijab rapih," kata Shamsi Ali Rabu (9/3/2022).
Baca Juga:Pengamat Terorisme Minta Rencana Pemetaan Masjid Dikaji Ulang
Kemudian muncul juga tuduhan-tuduhan ekstremisme atau radikalisme kerap digaungkan di musim-musim politik. Tujuannya tentu untuk menekan dan mengganjal pihak-pihak tertentu yang dianggap menimbulkan gangguan untuk mendapatkan kepentingan politiknya.
"Konsep moderasi atau radikalisme menjadi aneh dan membingungkan. Moderasi menjadi seperti yang sering saya sampaikan berbentuk moderasi sepihak dan radikalisme seperti dipaksakan," ujar dia.
"Saya kembali teringat peristiwa 9/11 di Amerika Serikat. Saat itu kata radikalisme atau ekstrimisme menjadi populer berdampingan dengan kata 'terror', sehingga peperangan yang disebut 'war on terror' tidak bisa dilepaskan dari peperangan kepada kaum radikal," katanya.