Masjid Agung Jateng, Padukan Gaya Eksotis Arab, Romawi dan Jawa
Arif purniawan
Rabu, 28 Juli 2021 - 16:35 WIB
Masjid Agung Jateng di Semarang. (Foto: Langit7.id/Arif Purniawan).
Masjid Agung Jawa Tengah (Jateng) menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik di Semarang. Rumah ibadah yang diresmikan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada November 2006 ini memiliki arsitektur yang eksotis paduan beberapa negara.
Tidak hanya sekadar tempat ibadah, masjid ini memiliki tempat penginapan bagi wisatawan yang berasal dari luar kota. Keren bukan? Begitu juga menara Al Husna Tower dengan ketinggian 99 meter menjadi spot yang asyik menikmati pemandangan kota.
Arsitek pembangunan Masjid Agung Jateng, Ir H Ahmad Fanani dari PT Atelier Enam, Jakarta. Dia mendesai rumah ibadah ini memadukan gaya Arab, Romawi dan tetap menggunakan budaya Jawa dalam bentuk limasan pada bangunan utama, lalu diberi kubah berdiameter 20 meter.
Gaya romawi terletak pada 25 pilar di pelataran bangunan masjid. Pilar-pilar bergaya koloseum Roma, dihiasi dengan kaligrafi yang menyimbolkan 25 nabi dan rasul.
Kemudian di bagian gerbang tertulis dua kalimat syahadat dan pada bidang datar tertulis Arab Melayu yang artinya 'Sucining Guno Gapuraning Gusti'.
Pada tiap penjuru atapnya dilengkapi dengan empat menara setinggi 62 meter sebagai bentuk universal Islam. Bangunan utama terdiri dari dua lantai. Lantai bawah digunakan untuk jamaah pria, sedangkan di atas untuk jamaah perempuan yang ingin menunaikan shalat.
Tak kalah eksotis lagi adalah enam payung elektrik di pelataran masjid tersebut yang kian menambah keelokan destinasi wisata yang dibangun dengan anggaran Rp198 miliar tersebut. Payung tersebut sama dengan yang ada di Masjid Nabawi, Madinah.
Tidak hanya sekadar tempat ibadah, masjid ini memiliki tempat penginapan bagi wisatawan yang berasal dari luar kota. Keren bukan? Begitu juga menara Al Husna Tower dengan ketinggian 99 meter menjadi spot yang asyik menikmati pemandangan kota.
Arsitek pembangunan Masjid Agung Jateng, Ir H Ahmad Fanani dari PT Atelier Enam, Jakarta. Dia mendesai rumah ibadah ini memadukan gaya Arab, Romawi dan tetap menggunakan budaya Jawa dalam bentuk limasan pada bangunan utama, lalu diberi kubah berdiameter 20 meter.
Gaya romawi terletak pada 25 pilar di pelataran bangunan masjid. Pilar-pilar bergaya koloseum Roma, dihiasi dengan kaligrafi yang menyimbolkan 25 nabi dan rasul.
Kemudian di bagian gerbang tertulis dua kalimat syahadat dan pada bidang datar tertulis Arab Melayu yang artinya 'Sucining Guno Gapuraning Gusti'.
Pada tiap penjuru atapnya dilengkapi dengan empat menara setinggi 62 meter sebagai bentuk universal Islam. Bangunan utama terdiri dari dua lantai. Lantai bawah digunakan untuk jamaah pria, sedangkan di atas untuk jamaah perempuan yang ingin menunaikan shalat.
Tak kalah eksotis lagi adalah enam payung elektrik di pelataran masjid tersebut yang kian menambah keelokan destinasi wisata yang dibangun dengan anggaran Rp198 miliar tersebut. Payung tersebut sama dengan yang ada di Masjid Nabawi, Madinah.