Pemerintah Targetkan Masyarakat Indonesia Akses Air Minum Layak pada 2024
Ummu hani
Rabu, 23 Maret 2022 - 17:05 WIB
Ilustrasi. (Foto: Langit7.id/iStock)
Pemerintah menargetkan 100 persen akses air minum layak dan 15 persen akses air minum aman di Tahun 2020-2024. Hal itu dilakukan untuk menjamin agar semua masyarakat hidup lebih sehat.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu mengatakan permasalahan air tidak hanya dari sisi kuantitas tapi juga dari kualitas yang banyak diakibatkan oleh pencemaran lingkungan. "Hal ini perlu menjadi perhatian kita agar semua aspek pembangunan khususnya penyediaan layanan dasar dan perilaku higiene sanitasi perlu kita pastikan keberlanjutannya untuk budaya hidup bersih dan sehat,” ujarnya dalam siaran pers, dikutip Langit7, Rabu (23/3/2022).
Baca Juga:22 Maret, Hari Air Sedunia Kampanyekan Hemat Air Tanah
Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) 2020 menyatakan, akses kualitas air minum aman sebesar 11,9 peren, dan 40,8 persen masyarakat menggunakan sarana air minum bersumber dari air tanah. Selain itu sebanyak 14,8 persen rumah tangga di Indonesia menggunakan sumur gali untuk keperluan minum dengan tingkat risiko cemaran tinggi.
"Sebagian besar hasil penelitian di Indonesia menunjukkan kualitas air yang buruk mencakup sumber air minum unimproved berkaitan dengan peningkatan stunting pada balita. Hal ini terjadi karena air mengandung mikroorganisme patogen dan bahan kimia lainnya sehingga menyebabkan anak mengalami penyakit diare EED (environmental enteric dysfunction)," ucap Maxi.
Adapun tindaklanjut pelaksanaan SKAMRT adalah dilakukan survailans kualitas air minum rumah tangga pada 34 provinsi di 34 kabupaten/kota. Tujuannya untuk menilai secara keberlanjutan dari upaya minimalisasi kejadian penyakit berbasis lingkungan.
Baca Juga:Program Pamsimas Mampu Atasi Persoalan Air Bersih di Desa
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu mengatakan permasalahan air tidak hanya dari sisi kuantitas tapi juga dari kualitas yang banyak diakibatkan oleh pencemaran lingkungan. "Hal ini perlu menjadi perhatian kita agar semua aspek pembangunan khususnya penyediaan layanan dasar dan perilaku higiene sanitasi perlu kita pastikan keberlanjutannya untuk budaya hidup bersih dan sehat,” ujarnya dalam siaran pers, dikutip Langit7, Rabu (23/3/2022).
Baca Juga:22 Maret, Hari Air Sedunia Kampanyekan Hemat Air Tanah
Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) 2020 menyatakan, akses kualitas air minum aman sebesar 11,9 peren, dan 40,8 persen masyarakat menggunakan sarana air minum bersumber dari air tanah. Selain itu sebanyak 14,8 persen rumah tangga di Indonesia menggunakan sumur gali untuk keperluan minum dengan tingkat risiko cemaran tinggi.
"Sebagian besar hasil penelitian di Indonesia menunjukkan kualitas air yang buruk mencakup sumber air minum unimproved berkaitan dengan peningkatan stunting pada balita. Hal ini terjadi karena air mengandung mikroorganisme patogen dan bahan kimia lainnya sehingga menyebabkan anak mengalami penyakit diare EED (environmental enteric dysfunction)," ucap Maxi.
Adapun tindaklanjut pelaksanaan SKAMRT adalah dilakukan survailans kualitas air minum rumah tangga pada 34 provinsi di 34 kabupaten/kota. Tujuannya untuk menilai secara keberlanjutan dari upaya minimalisasi kejadian penyakit berbasis lingkungan.
Baca Juga:Program Pamsimas Mampu Atasi Persoalan Air Bersih di Desa