Ramadhan di Seluruh Dunia
Perjuangan 1 Persen Umat Islam di Florence Jaga Ibadah, Ukhuwah dan Toleransi
Muhajirin
Senin, 18 April 2022 - 13:00 WIB
Farhan Abdul Majiid di Italia (foto: dokumentasi pribadi)
Italia identik dengan pusat agama Katolik. Terlebih, Vatikan berada di negara tempat kelahiran Valentino Rossi tersebut. Namun bukan berarti tidak ada masyarakat yang beragama Islam di sana.
Umat Islam di Italia tetap antusias melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan dan silaturahmi guna mengisi Ramadhan. Masyarakat Italia juga toleran. Seperti yang diceritakan Farhan Abdul Majiid, MahasiswaSchool of Transnational GovernanceEuropean University Institute, Florence, Italia.
“Teman-teman dan warga sekitar pun cukup toleran. Cukup sering saya bertemu dengan warga lokal yang membeli makanan halal, karena bagi mereka rasanya cukup lezat dan harganya terjangkau. Tapi kalau untuk masalah ibadah seperti puasa, tampaknya banyak di antara mereka yang tidak tahu, walau ketika mereka tahu pun mereka menghormati,” kata Farhan kepada LANGIT7.ID, Senin (18/4/2022).
Baca juga: Ramadhan di Jerman: Tanpa Adzan dan Sulit Mencari Makanan Halal
Puasa di Italia sebetulnya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Tapi memang ada beberapa tantangan. Secara jumlah, penduduk muslim sedikit. Suasana Ramadhan tidak terasa di tempat umum. Itu hal biasa di negara-negara berpenduduk minoritas muslim.
Farhan menyebut, suasana Ramadhan baru akan terasa jika berada di tengah-tengah komunitas muslim, seperti di masjid atau di toko makanan halal. Di toko makanan halal, mereka menyediakan takjil pada sore hari, seperti kurma dan baklava.
Agenda khusus Ramadhan cenderung tidak ada, terkhusus di Florence. Berbeda saat berada di Roma, Farhan menyebut ada kegiatan Ramadhan di kota tersebut, karena memang umat Islam memiliki jumlah besar. Kedutaan negara muslim juga membagikan buka puasa.
Umat Islam di Italia tetap antusias melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan dan silaturahmi guna mengisi Ramadhan. Masyarakat Italia juga toleran. Seperti yang diceritakan Farhan Abdul Majiid, MahasiswaSchool of Transnational GovernanceEuropean University Institute, Florence, Italia.
“Teman-teman dan warga sekitar pun cukup toleran. Cukup sering saya bertemu dengan warga lokal yang membeli makanan halal, karena bagi mereka rasanya cukup lezat dan harganya terjangkau. Tapi kalau untuk masalah ibadah seperti puasa, tampaknya banyak di antara mereka yang tidak tahu, walau ketika mereka tahu pun mereka menghormati,” kata Farhan kepada LANGIT7.ID, Senin (18/4/2022).
Baca juga: Ramadhan di Jerman: Tanpa Adzan dan Sulit Mencari Makanan Halal
Puasa di Italia sebetulnya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Tapi memang ada beberapa tantangan. Secara jumlah, penduduk muslim sedikit. Suasana Ramadhan tidak terasa di tempat umum. Itu hal biasa di negara-negara berpenduduk minoritas muslim.
Farhan menyebut, suasana Ramadhan baru akan terasa jika berada di tengah-tengah komunitas muslim, seperti di masjid atau di toko makanan halal. Di toko makanan halal, mereka menyediakan takjil pada sore hari, seperti kurma dan baklava.
Agenda khusus Ramadhan cenderung tidak ada, terkhusus di Florence. Berbeda saat berada di Roma, Farhan menyebut ada kegiatan Ramadhan di kota tersebut, karena memang umat Islam memiliki jumlah besar. Kedutaan negara muslim juga membagikan buka puasa.