LANGIT7.ID, Jakarta - Menjalankan ibadah puasa Ramadhan di negeri orang memang membawa banyak tantangan. Terlebih, karena iklim dan budaya yang berbeda.
Hal tersebut dirasakan Ilham Akhsanu Ridlo, Mahasiswa S3 Ludwig Maximilian University of Munich. Ilham sudah 7 bulan di Munich, Jerman. Tahun ini merupakan puasa perdananya di luar Negeri.
Dia merasakan banyak perbedaan dan tantangan ketika menahan lapar dan haus di Jerman. Misal, Ramadhan tahun yang jatuh pada musim semi. Umat Islam bisa menjalani ibadah puasa 14 sampai 15 jam tiap hari. Durasi itu berbeda lagi jika musim panas, yang bisa sampai 18-19 jam.
Perbedaan durasi membuat Ilham harus melakukan penyesuaian. Terlebih, dia selama bertahun-tahun puasa 12 jam di Indonesia. Berpuasa dengan durasi di luar negeri itu sedikit membuatnya kaget.
Baca juga: Melatih Kesabaran Berpuasa 16-20 Jam di Swedia“Musim semi ini kan waktu siangnya lebih panjang. Dzuhur ke Ashar lebih panjang, dari Ashar ke Maghrib juga panjang. itu aja si penyesuaian, kadang-kadang kagok. Buka puasanya 19.54. Tarawih juga hampir 21.30,” kata Ilham kepada LANGIT7.ID, Jumat (8/4/2022).
Selain itu, semarak Ramadhan di Jerman tak semeriah di Indonesia. Suara adzan saja tidak terdengar. Itu berkaitan dengan regulasi Munich yang tidak mengizinkan adzan menggunakan pengeras suara.
“Kalau di Indonesia, kita bisa dengar masjid di mana-mana, pengeras suara untuk waktu buka puasa dan sahur, otomatis tidak nyalain alarm (karena) sudah diingatkan, ada yang jam 02.00, jam 03.00 diingetin lagi, di sini itu tidak ada. Karena Jerman negara sekular, tidak mungkin ada yang seperti itu,” tutur Ilham
Suasana Ramadhan di JermanJerman merupakan negara federal. Suasana Ramadhan di setiap negara bagian bisa berbeda, karena konsentrasi muslim di tiap negara bagian juga berbeda-beda. Misal di Berlin, Bremen, Hamburg, Hessen, hingga Sachsen.
Ilham mengatakan, dari data tahun 2021, jumlah umat Islam hanya 4 persen di seluruh negara bagian. Itu pun terbagi ke dalam dua kubu. Ada umat Islam yang taat menjalankan ibadah puasa, ada pula yang hanya luarannya saja (karena kesehariannya sekular juga -red).
Di Munich, komunitas muslim terbesar adalah Muslim Friendly Tourism (MFT). Komunitas itu kerap menggelar rangkaian acara untuk memeriahkan Ramadhan. Mereka kerap menggelar buka bersama yang dibuka untuk umum. Mereka juga mengadakan tarawih berjamaah dan pengajian.
Muslim asal Indonesia di Munich juga memiliki komunitas yakni PM3 Indonesia Munchen. Komunitas ini memiliki agenda Ramadhan seperti mabit tiap Jumat-Sabtu, pengajian umum, subuh berjamaah, hingga Idul Fitri di Aula Serba Guna PM3.
“Kegiatan di sini menyesuaikan juga dengan rutinitas pekerjaan. Tidak bisa juga kayak di Indonesia tiap hari,” ucap Ilham. Di Munich tidak ada pengurangan waktu kerja saat Ramadhan. Produktivitas tidak boleh diganggu oleh kegiatan keagamaan. Itu hal wajar di negara sekular.
Di sisi lain, berpuasa di Jerman sama saja seperti hari-hari biasa. Tidak ada ucapan selamat di televisi atau radio, di jalan-jalan, atau pesan-pesan singkat. Kondisi kota sama seperti hari-hari biasa.
“Suasananya beda dengan Indonesia. Di sini puasa tidak puasa tidak kelihatan, orang juga tidak ngurus. Harus kelola diri sendiri, agenda juga menyesuaikan dengan rutinitas kerja,” tutur ilham.
Kehidupan Muslim JermanMayoritas muslim di Jerman berasal dari Turki. Itu tak terlepas dari pengaruh Perang Dunia I dan II. Saat hendak mempercepat pertumbuhan laju ekonomi usai perang, Jerman membuka kran tenaga kerja dari Turki.
“Orang Turki banyak di Jerman, akhirnya kehidupan beragama itu memang didominasi oleh komunitas Turki,” kata Ilham.
Namun makin ke sini, Islam makin berkembang. Ada juga warga Jerman asli yang mualaf. Begitupun setelah penyatuan Uni Eropa, banyak warga Kosovo dan Bosnia datang ke Jerman untuk bekerja.
Secara tidak langsung, para migran muslim itu mewarnai kehidupan umat Islam di Jerman. Mereka membentuk komunitas sesuai negara masing-masing. Kehidupan dalam komunitas itu juga mengikuti corak dan ciri negara masing-masing, termasuk komunitas muslim Indonesia.
Di sisi lain, belum ada gerakan persatuan dari semua komunitas, masih terkesan berjalan sendiri-sendiri. Itu karena komunitas lebih sebagai wadah silaturahmi. Pemerintah Jerman juga mengontrol akibat desas-desus ISIS. Tak heran, stigma negatif terhadap umat Islam masih ada.
Tantangan lainnya ialah soal makanan halal. Ini Jerman, bukan Indonesia. Khusus di Munich, mencari makanan halal lumayan susah. Tapi bukan berarti tidak ada. Ada beberapa toko milik komunitas Turki yang menjual daging halal.
Baca juga: Protes Imigran Muslim di Swedia Minta Kembalikan Anak-Anak Mereka“Jadi kita pintar-pintar sajalah, karena posisi hukumnya juga berbeda, tidak bisa memakai beberapa hukum kajian fikih yang ada di Indonesia. Jadi kita harus fleksibel dalam bergaul,” kata Ilham.
Akan tetapi, secara umum, orang-orang Munich sangat peduli terhadap umat Islam. Tidak ada kasus pelecehan agama Islam yang terjadi di Munich. Ilham menyebut orang Munich lebih egaliter dan lebih bebas.
“Mungkin di tempat lain kondisinya berbeda-beda. (Dalam) beberapa kasus, ada penyerangan di Berlin, tapi sejauh ini di Munich aman,” tutur Ilham.
(jqf)