LANGIT7.ID, Jakarta - Italia identik dengan pusat agama Katolik. Terlebih, Vatikan berada di negara tempat kelahiran Valentino Rossi tersebut. Namun bukan berarti tidak ada masyarakat yang beragama Islam di sana.
Umat Islam di Italia tetap antusias melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan dan silaturahmi guna mengisi Ramadhan. Masyarakat Italia juga toleran. Seperti yang diceritakan Farhan Abdul Majiid, Mahasiswa School of Transnational Governance European University Institute, Florence, Italia.
“Teman-teman dan warga sekitar pun cukup toleran. Cukup sering saya bertemu dengan warga lokal yang membeli makanan halal, karena bagi mereka rasanya cukup lezat dan harganya terjangkau. Tapi kalau untuk masalah ibadah seperti puasa, tampaknya banyak di antara mereka yang tidak tahu, walau ketika mereka tahu pun mereka menghormati,” kata Farhan kepada LANGIT7.ID, Senin (18/4/2022).
Baca juga: Ramadhan di Jerman: Tanpa Adzan dan Sulit Mencari Makanan HalalPuasa di Italia sebetulnya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Tapi memang ada beberapa tantangan. Secara jumlah, penduduk muslim sedikit. Suasana Ramadhan tidak terasa di tempat umum. Itu hal biasa di negara-negara berpenduduk minoritas muslim.
Farhan menyebut, suasana Ramadhan baru akan terasa jika berada di tengah-tengah komunitas muslim, seperti di masjid atau di toko makanan halal. Di toko makanan halal, mereka menyediakan takjil pada sore hari, seperti kurma dan baklava.
Agenda khusus Ramadhan cenderung tidak ada, terkhusus di Florence. Berbeda saat berada di Roma, Farhan menyebut ada kegiatan Ramadhan di kota tersebut, karena memang umat Islam memiliki jumlah besar. Kedutaan negara muslim juga membagikan buka puasa.
Di Florence, dari sekitar 300 ribu penduduk, hanya sekira 1 persen beragama Islam. Kebanyakan pun imigran. Jadi, mereka biasanya memiliki komunitas masing-masing. Namun, ada ukhuwah antar komunitas muslim tersebut.
“Misalkan di toko daging halal atau di warung makan halal, karena jumlahnya sedikit, mereka hafal pendatang muslim seperti saya. Terkadang memberi rekomendasi berbelanja kebutuhan halal atau menyediakan ruang untuk shalat (karena tempat mereka cukup dekat dari kampus namun agak jauh dari Masjid),” kata Farhan.
Di Florence, hanya ada satu masjid besar. Itu pun hanya menampung sekitar 150-an jamaah. Kondisi itu membuat shalat jamaah kerap dibagi menjadi 3
shift. Itu pun meluber hingga taman di seberang jalan masjid. Ada masjid lain, namun terletak di daerah pinggiran kota.
![Perjuangan 1 Persen Umat Islam di Florence Jaga Ibadah, Ukhuwah dan Toleransi]()
“Saya pernah dengar sudah ada advokasi untuk membangun masjid jami' yang representatif, mengingat komunitas Muslim semakin tumbuh lumayan pesat, tapi masih belum terlihat tanda-tanda akan dibangun dalam waktu dekat,” kata Farhan.
Tantangan lain ada pada cuaca dan durasi berpuasa. Ramadhan 1443 H jatuh pada awal musim semi, masih bertransisi dari musim dingin. Cuaca masih cukup dingin, meski udara kering. Udara kering itu membuat mudah haus ketimbang di tempat yang lembab.
Baca juga: Melatih Kesabaran Berpuasa 16-20 Jam di SwediaKedua, waktu puasa yang lebih lama dan perubahan waktu shalat sangat cepat. Pada hari pertama puasa, waktu subuh itu di pukul 5.15 dan maghrib di 19.40. Hari ke-15, subuh sudah maju menjadi 4.43 dan Maghrib mundur menjadi 20.00.
“Jadi setiap hari harus menyesuaikan waktu yang cepat berubahnya,” tutur Farhan.
Dengan kondisi seperti itu, ibadah puasa di Italia cukup menantang terlebih berbarengan dengan Ujian Akhir Semester (UAS) di kampusnya.
“Ini lumayan menantang
sih. Karena pekan pertama puasa kemarin juga bersamaan dengan pekan UAS. Tapi sama mahasiswa yang puasa lainnya juga saling
support, bahkan dari yang non-muslim,” tutur Farhan.
Sementara untuk ibadah lain seperti tarawih hingga tadarus Al-Qur’an, hanya bisa dilakukan secara mandiri.
“Sementara kalau ibadah lainnya, itu ya benar-benar harus diupayakan secara mandiri,” ujar Farhan.
Kendati demikian, bagi Farhan tantangan itu memberi peluang untuk mengenalkan ajaran puasa dalam Islam kepada masyarakat Italia. "Pernah kami berdiskusi tentang tradisi puasa dengan teman lintas agama sehingga bisa saling mengerti satu sama lain," pungkas Farhan.
(jqf)