home edukasi & pesantren

Sejarah Darul Huffadh Bone, Berawal dari Mimpi Petromaks Gurutta Lanre Said

Sabtu, 31 Juli 2021 - 19:11 WIB
Ribuan santri Ponpes Darul Huffadh Bone sedang melaksanakan sholat idul adha (foto: AQC Darul Huffadh)
Jauh sebelum Indonesia merdeka, lahir seorang bayi yang menjadi cikal-bakal ulama yang memberikan sumbangsih pada tradisi keilmuan di Indonesia, terkhusus di Sulawesi Selatan. Ulama itu mencetak ribuan kader-kader yang tangguh. Para santrinya datang dari berbagai penjuru bahkan mancanegara. Ulama itu adalah Gurutta Lanre Said.

Lanre Said lahir pada 1923 di sebuah desa kecil bernama Ulunipa dari pasangan Andi Passennuni Petta Ngatta dan Andi Marhana Petta Uga. Melihat dari nama orang tuanya, Said merupakan keturunan bangsawan. Sejak kecil ia dididik langsung oleh ayahnya.

Pada usia 10 tahun, Lanre Said dikirim untuk belajar ke Sengkang, Sulawesi Selatan. Beliau menimba ilmu dan menghafal Al-Qur’an di pondok pesantren selama 16 tahun saat berada di Sengkang. Dari situ Lanre remaja membangun pondasi pengetahuan agama dengan bimbingan langsung AGH Muhammad As’ad.

Setelah mengabdi kurang lebih empat tahun, beliau ke Selayar untuk membuka sekolah dan mengajar selama dua tahun. Lanre Said lalu kembali ke kampung halamannya untuk mengajar selama 2 tahun. Delapan tahun selama masa pengabdiannya tidak pernah menuntut upah bahkan selalu menolak setiap ditawari upah.

Mimpi Lampu Petromaks



Ustadz Saad Said, salah satu anak Gurutta Lanre Said, menceritakan awal mula ayahnya mendirikan pesantren Darul Huffadh. Darul Huffadh lahir dari mimpi Gurutta Lanre yang ia sebut sebagai ilham. Sekitar 1950-an, beliau bermimpi melihat sebuah lampu petromaks yang bersinar di puncak Gunung Bilala.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
pondok pesantren sejarah pesantren darul huffadh
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya