Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Sejarah Darul Huffadh Bone, Berawal dari Mimpi Petromaks Gurutta Lanre Said

Muhajirin Sabtu, 31 Juli 2021 - 19:11 WIB
Sejarah Darul Huffadh Bone, Berawal dari Mimpi Petromaks Gurutta Lanre Said
Ribuan santri Ponpes Darul Huffadh Bone sedang melaksanakan sholat idul adha (foto: AQC Darul Huffadh)
LANGIT7.ID - Jauh sebelum Indonesia merdeka, lahir seorang bayi yang menjadi cikal-bakal ulama yang memberikan sumbangsih pada tradisi keilmuan di Indonesia, terkhusus di Sulawesi Selatan. Ulama itu mencetak ribuan kader-kader yang tangguh. Para santrinya datang dari berbagai penjuru bahkan mancanegara. Ulama itu adalah Gurutta Lanre Said.

Lanre Said lahir pada 1923 di sebuah desa kecil bernama Ulunipa dari pasangan Andi Passennuni Petta Ngatta dan Andi Marhana Petta Uga. Melihat dari nama orang tuanya, Said merupakan keturunan bangsawan. Sejak kecil ia dididik langsung oleh ayahnya.

Pada usia 10 tahun, Lanre Said dikirim untuk belajar ke Sengkang, Sulawesi Selatan. Beliau menimba ilmu dan menghafal Al-Qur’an di pondok pesantren selama 16 tahun saat berada di Sengkang. Dari situ Lanre remaja membangun pondasi pengetahuan agama dengan bimbingan langsung AGH Muhammad As’ad.

Setelah mengabdi kurang lebih empat tahun, beliau ke Selayar untuk membuka sekolah dan mengajar selama dua tahun. Lanre Said lalu kembali ke kampung halamannya untuk mengajar selama 2 tahun. Delapan tahun selama masa pengabdiannya tidak pernah menuntut upah bahkan selalu menolak setiap ditawari upah.

Mimpi Lampu Petromaks

Ustadz Saad Said, salah satu anak Gurutta Lanre Said, menceritakan awal mula ayahnya mendirikan pesantren Darul Huffadh. Darul Huffadh lahir dari mimpi Gurutta Lanre yang ia sebut sebagai ilham. Sekitar 1950-an, beliau bermimpi melihat sebuah lampu petromaks yang bersinar di puncak Gunung Bilala.

“Ketika mendapatkan ilham itu, beliau selalu mempertanyakan apa sebenarnya takbir dari mimpinya. Mimpi itu bukan dalam bentuk perintah bahwa ‘kamu harus mendirikan pesantren’. Beliau diperlihatkan lampu petromaks di atas Gunung Bilala. Itu beliau maknai, salah satu di antara maknanya bahwa dia harus mendirikan lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan yang didirikan itu dalam bentuk pesantren,” kata Ustadz Saad Said, dikutip dari laman Youtube tribuntimur.

Dari ta’bir mimpi itu, Gurutta Lanre Said terdorong untuk mendirikan pesantren yang khusus untuk menghafal Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama Islam. Proses pendirian dan pelaksanaan pondok pesantren harus berdasarkan tata cara dan garis-garis ketentuan yang tertera dalam mimpi tersebut.

Lampu petromaks yang bersinar terang memancarkan cahaya di sekelilingnya, namun tempat di bawahnya tetap dalam kegelapan. Itu merupakan isyarat bahwa Darul Huffadh berdiri maka santri yang belajar di dalamnya mayoritas berasal dari luar daerah berdirinya Pesantren, pesantren berdiri di daerah dengan masyarakat yang rusak dalam kehidupan beragama serta gelap mata dan hati melihat keberadaan Pesantren.

Sementara Gunung artinya huruf ‘ba’ dalam bahasa Arab berarti ‘dengan’. Sementara dua huruf lam berasal dari surah Asy-Syura Ayat 23 yakni:

لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا

“Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku,”

Kemudian lam kedua diambil dari surah Al-Insan Ayat 9, yakni:

لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا

“kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu,”

Dari dua ayat ini, Gurutta Lanre Said berprinsip tidak akan memungut pembayaran dari santri, tidak meminta sumbangan dari masyarakat, dan tidak mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan pesantren. Prinsip ini berlaku hingga saat ini. Meski memiliki ribuan santri, namun semua tak dipungut biaya sepeser pun.

“Kenapa beliau memaknai itu sebagai lembaga pendidikan, karena beliau melihat itu adalah cahaya. Maknanya, apa yang diterapkan dalam pesantren adalah sesuatu yang berbentuk Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah cahaya. Dari sinilah letak awalnya, lampu petromaks di atas gunung Bilala,” kata Ustadz Saad Said.

Ustadz Saad menceritakan, usai mendapat ilham dari mimpi itu, Gurutta Lanre Said pun berkelana mencari lokasi yang tepat. Muai dari Jawa, Kalimantan, hingga menyusuri pelosok-pelosok Sulawesi. Pada 1962, Gurutta Lanre Said berangkat ke luar Sulawesi untuk mencari lokasi yang sesuai dengan petunjuk mimpinya.

Beliau melakukan perjalanan dakwah ke Kalimantan bersama 26 tenaga pengajar. Dia menetap di pulau itu selama dua tahun setengah. Namun, beliau tidak menemukan tanda-tanda lokasi pendirian pesantren. Beliau pun berangkat ke Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk berdakwah sekaligus mencari tempat yang cocok untuk didirikan pondok pesantren.

Meski sudah menetap satu setengah tahun, Gurutta Lanre Said tak menemukan lokasi yang dimaksud. Bahkan masyarakat setempat tidak ramah dengan kehadiran beliau. Dia akhirnya berangkat Surabaya, Cirebon, dan Jakarta. Selama 10 tahun keliling di Pulau Jawa, belum juga mendapatkan tempat yang cocok pendirian pesantren.

“Di Jawa dicari lagi lokasi sesuai yang ada dalam keterangan lampu petromaks, ternyata 10 tahun di Jawa itu tidak ditemukan,” ucap Ustadz Saad Said.

Pada 1974, Gurutta Lanre Said kembali mendapatkan sinyal bahwa lokasi pesantren berada di Indonesia Timur. ia pun kembali lagi ke Sulawesi Selatan. Pelosok Sulawesi pun dikelilingi lagi. “Seluruh Sulawesi dikelilingi, dan ternyata hasilnya beliau tidak mendapatkan lokasi yang tepat, sesuai bayangan lampu petromaks. Karena belum temukan di Sulawesi, maka beliau kembali lagi ke Jawa,” kata Ustadz Saad Said.

Namun pada Juni 1975, beliau kembali mendapat signal untuk mendirikan pesantren pada Agustus tahun itu. Menit-menit akhir yang menentukan. Tepat 7 Agustus 1975 di kampung Tuju-Tuju, Kec. Kajuara, Kabupaten Bone dengan 7 santri, beliau mendirikan pesantren Darul Huffadh. Saat pertama kali berdiri, pondok itu dibentuk menjadi sebuah majlis biasa dengan nama Majlis Qurro’ Wal Huffadz.

Sesuai prinsip Gurutta Lanre Said sejak awal, Darul Huffadh berdiri tanpa donatur. Awal mula, pemerintah setempat tidak mengizinkan pendirian pondok. Demikian pula masyarakat sekitar yang tak menerima keberadaan Majlis Qurra’ wal Huffadh. Pada saat itu berbagai macam intimidasi dirasakan oleh santri pengajian, mulai dari gangguan masyarakat sekitar sampai tindakan pemerintah yang memandang sebelah mata akan kehadiran pondok itu.

Saat Petromaks Sudah Menyala

Sejarah Darul Huffadh Bone, Berawal dari Mimpi Petromaks Gurutta Lanre Said


Awal mula berdiri, banyak tantangan yang didapatkan. Sekitar 17 tahun Majelis Qurra’ wa Huffadh tidak mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Bahkan pondok itu kerap menjadi sasaran aparat pemerintah dan militer untuk mengintimidasi berusaha menghentikan pembangunan dan pengajaran di majlis ini.

Mengutip laman pesantren tahfidz Indonesia, pada 1989, Majlis Qurro’ wal Huffadh, telah menjalankan program Kuliyatul Mu’alimin Al-Islamiyyah (KMI). Namun 2 tahun berturut-turut belum ada santri yang dapat menyelesaikan program pendidikan itu. Baru pada 1996, tercatat 3 santri alumni pertama KMI Pondok Pesantren Darul Huffadh. Begitu seterusnya, tiap tahun melahirkan dan mencetak alumni.

Pada 1997, Pondok Pesantren Putri dibuka. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler mulai dijalankan sebagai bekal bagi santri. Mulai dari kursus bahasa, seni dan komputer, hingga ilmu bela diri.

Hingga pada akhirnya, pada Oktober 1993, Majlis Qurra’ wal Huffadh dengan nama Pondok Pesantren Darul Huffadh diresmikan oleh Bapak Bupati Bone. Saat ini Pondok Pesantren Darul Huffadh sudah menaungi Madrasah Aliyah Darul Huffadh, Madrasah Tsanawiyah Darul Huffadh, dan Salafiah Darul Huffadh. Semua lembaga itu telah terdaftar di Departemen Agama.

Darul Huffadh kini sudah berusia 46 tahun. Ribuan santri berdatangan dari berbagai penjuru daerah. Para santri hanya dituntut belajar dan menghafal al Quran tanpa dipungut biaya. Kota asal santri dan santriwati paling banyak dari Sulsel dan paling jauh berasal dari Malaysia. Ada pula dari Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan hingga Papua.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)