Filosofi Panggilan Gus dan Ning di Lingkungan Pesantren
Muhajirin
Rabu, 18 Mei 2022 - 20:42 WIB
Ilustrasi: Gus Baha dan istrinya, Ning Winda (foto: istimewa)
Masyarakat Indonesia, khususnya di Tanah Jawa mengenal tokoh-tokoh dari lingkungan pesantren dengan panggilan ‘Gus’. Ada beberapa tokoh bergelar Gus terkenal seperti KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri yang dipanggil Gus Mus hingga KH Ahmad Bahauddin Nursalim yang kerap disapa Gus Baha.
Gus Syauqie dari Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto menjelaskan, sapaan Gus ini lekat dengan bangsawan, keturunan darah biru Kiai. Panggilan Gus hanya dialamatkan kepada putra laki-laki dari seorang Kiai.
"Itu adalah panggilan kehormatan. Jika perempuan, maka dipanggil Ning, laki-laki dipanggil Gus," kata Gus Syauqie di kanal Sakti TV, dikutip Rabu (18/5/2022).
Baca Juga:Tradisi Syawalan di Pesantren KHAS, Healing Ruhani Para Alumni
Tidak semua orang bisa mendapatkan panggilan ini. Hanya putra-putri keturunan dari Kiai dan Bu Nyai di pondok pesantren yang bisa dipanggil Gus dan Ning. Gus sendiri memiliki makna filosofis yaitu bagusi pekerti yang artinya budi pekerti yang luhur. Sementara Ning memiliki filosofi beningno ati yang artinya menjernihkan hati.
"Ini menurut saya, berat sekali kalau sudah menyandang gelar seperti itu, dia harus menjadi contoh buat para pengikutnya, atau para followernya. Begitu juga dengan sebutan Ning, harus bisa jernih hatinya," kata Gus Syauqie.
Selain panggilan Gus, ada juga panggilan lora. Itu sebutan untuk putra kiai yang ada di wilayah Madura. Kalau di Jawa Barat, ada panggilan lain yakni Kang atau Aceng. Gelar ini diberikan kepada anak Kiai yang ada di pesantren di daerah Jawa Barat.
Gus Syauqie dari Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto menjelaskan, sapaan Gus ini lekat dengan bangsawan, keturunan darah biru Kiai. Panggilan Gus hanya dialamatkan kepada putra laki-laki dari seorang Kiai.
"Itu adalah panggilan kehormatan. Jika perempuan, maka dipanggil Ning, laki-laki dipanggil Gus," kata Gus Syauqie di kanal Sakti TV, dikutip Rabu (18/5/2022).
Baca Juga:Tradisi Syawalan di Pesantren KHAS, Healing Ruhani Para Alumni
Tidak semua orang bisa mendapatkan panggilan ini. Hanya putra-putri keturunan dari Kiai dan Bu Nyai di pondok pesantren yang bisa dipanggil Gus dan Ning. Gus sendiri memiliki makna filosofis yaitu bagusi pekerti yang artinya budi pekerti yang luhur. Sementara Ning memiliki filosofi beningno ati yang artinya menjernihkan hati.
"Ini menurut saya, berat sekali kalau sudah menyandang gelar seperti itu, dia harus menjadi contoh buat para pengikutnya, atau para followernya. Begitu juga dengan sebutan Ning, harus bisa jernih hatinya," kata Gus Syauqie.
Selain panggilan Gus, ada juga panggilan lora. Itu sebutan untuk putra kiai yang ada di wilayah Madura. Kalau di Jawa Barat, ada panggilan lain yakni Kang atau Aceng. Gelar ini diberikan kepada anak Kiai yang ada di pesantren di daerah Jawa Barat.