LANGIT7.ID - Masyarakat Indonesia, khususnya di Tanah Jawa mengenal tokoh-tokoh dari lingkungan
pesantren dengan panggilan ‘Gus’. Ada beberapa tokoh bergelar Gus terkenal seperti KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri yang dipanggil Gus Mus hingga KH Ahmad Bahauddin Nursalim yang kerap disapa Gus Baha.
Gus Syauqie dari Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto menjelaskan, sapaan Gus ini lekat dengan bangsawan, keturunan darah biru Kiai. Panggilan Gus hanya dialamatkan kepada putra laki-laki dari seorang Kiai.
"Itu adalah panggilan kehormatan. Jika perempuan, maka dipanggil Ning, laki-laki dipanggil Gus," kata Gus Syauqie di kanal Sakti TV, dikutip Rabu (18/5/2022).
Baca Juga: Tradisi Syawalan di Pesantren KHAS, Healing Ruhani Para Alumni
Tidak semua orang bisa mendapatkan panggilan ini. Hanya putra-putri keturunan dari Kiai dan Bu Nyai di pondok pesantren yang bisa dipanggil Gus dan Ning. Gus sendiri memiliki makna filosofis yaitu
bagusi pekerti yang artinya budi pekerti yang luhur. Sementara Ning memiliki filosofi
beningno ati yang artinya menjernihkan hati.
"Ini menurut saya, berat sekali kalau sudah menyandang gelar seperti itu, dia harus menjadi contoh buat para pengikutnya, atau para
followernya. Begitu juga dengan sebutan Ning, harus bisa jernih hatinya," kata Gus Syauqie.
Selain panggilan Gus, ada juga panggilan lora. Itu sebutan untuk putra kiai yang ada di wilayah Madura. Kalau di Jawa Barat, ada panggilan lain yakni Kang atau Aceng. Gelar ini diberikan kepada anak Kiai yang ada di pesantren di daerah Jawa Barat.
"Kang, Akang, Aceng, itu hampir sama dengan Gus, meskipun lebih populer Gus. Sebenarnya panggilan Kiai, Bu Nyai, Gus, dan Ning, itu hanya sebagai identitas saja,. Tidak lebih. Sama halnya dengan panggilan Ning, Kang," tutur Gus Syauqie.
Baca Juga: Gus Miftah: Meski Dinomorduakan, Pesantren Lebih Unggul dalam Pendidikan Akhlak
Gus Syauqie menegaskan, panggilan Kiai, Bu Nyai, ataupun Gus tidak lantas menciptakan kasta di lingkungan pesantren. Namun justru gelar menandakan penyandang memiliki tugas berat.
"Di dalam dada mereka ada setumpuk tanggung jawab moral, keilmuan, dan akhlak, yang mengantarkan santri pada tujuan
tafaqquh fiddin. Tugas ini adalah tugas yang sangat berat," pungkasnya.
(jqf)