Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Filosofi Panggilan Gus dan Ning di Lingkungan Pesantren

Muhajirin Rabu, 18 Mei 2022 - 20:42 WIB
Filosofi Panggilan Gus dan Ning di Lingkungan Pesantren
Ilustrasi: Gus Baha dan istrinya, Ning Winda (foto: istimewa)
LANGIT7.ID - Masyarakat Indonesia, khususnya di Tanah Jawa mengenal tokoh-tokoh dari lingkungan pesantren dengan panggilan ‘Gus’. Ada beberapa tokoh bergelar Gus terkenal seperti KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri yang dipanggil Gus Mus hingga KH Ahmad Bahauddin Nursalim yang kerap disapa Gus Baha.

Gus Syauqie dari Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto menjelaskan, sapaan Gus ini lekat dengan bangsawan, keturunan darah biru Kiai. Panggilan Gus hanya dialamatkan kepada putra laki-laki dari seorang Kiai.

"Itu adalah panggilan kehormatan. Jika perempuan, maka dipanggil Ning, laki-laki dipanggil Gus," kata Gus Syauqie di kanal Sakti TV, dikutip Rabu (18/5/2022).

Baca Juga: Tradisi Syawalan di Pesantren KHAS, Healing Ruhani Para Alumni

Tidak semua orang bisa mendapatkan panggilan ini. Hanya putra-putri keturunan dari Kiai dan Bu Nyai di pondok pesantren yang bisa dipanggil Gus dan Ning. Gus sendiri memiliki makna filosofis yaitu bagusi pekerti yang artinya budi pekerti yang luhur. Sementara Ning memiliki filosofi beningno ati yang artinya menjernihkan hati.

"Ini menurut saya, berat sekali kalau sudah menyandang gelar seperti itu, dia harus menjadi contoh buat para pengikutnya, atau para followernya. Begitu juga dengan sebutan Ning, harus bisa jernih hatinya," kata Gus Syauqie.

Selain panggilan Gus, ada juga panggilan lora. Itu sebutan untuk putra kiai yang ada di wilayah Madura. Kalau di Jawa Barat, ada panggilan lain yakni Kang atau Aceng. Gelar ini diberikan kepada anak Kiai yang ada di pesantren di daerah Jawa Barat.

"Kang, Akang, Aceng, itu hampir sama dengan Gus, meskipun lebih populer Gus. Sebenarnya panggilan Kiai, Bu Nyai, Gus, dan Ning, itu hanya sebagai identitas saja,. Tidak lebih. Sama halnya dengan panggilan Ning, Kang," tutur Gus Syauqie.

Baca Juga: Gus Miftah: Meski Dinomorduakan, Pesantren Lebih Unggul dalam Pendidikan Akhlak

Gus Syauqie menegaskan, panggilan Kiai, Bu Nyai, ataupun Gus tidak lantas menciptakan kasta di lingkungan pesantren. Namun justru gelar menandakan penyandang memiliki tugas berat.

"Di dalam dada mereka ada setumpuk tanggung jawab moral, keilmuan, dan akhlak, yang mengantarkan santri pada tujuan tafaqquh fiddin. Tugas ini adalah tugas yang sangat berat," pungkasnya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)