Koloborasi, Kiat Kopi Tuli dan Teman Tuli Bertahan Saat Pandemi
Mahmuda attar hussein
Senin, 02 Agustus 2021 - 21:20 WIB
Ilustrasi suasana bisnis Kopi Tuli. Foto: Langit7/ antara
Bisnis minuman kopi bukanlah hal baru. Kini, bisnis perkopian telah menjamur dari usaha rumahan hingga coffee shop. Namun, bisniskopi satu ini tergolong unik. Selain dari namanya Kopi Tuli, ternyata pemilik dan karyawannya pun merupakan penyandang tuna rungu, atau disebut teman tuli.
Sejak dibuka pada 2018 lalu, Kopi Tuli sempat memiliki tiga cabang yang tersebar di sekitaran Jakarta Selatan dan Depok. Namun, setelah dilanda pandemi, Kopi Tuli menghadapi kesulitan tersendiri dan akhirnya memutuskan untuk menutup cabang mereka.
Salah satu pendiri Kopi Tuli, Andhika Prakoso mengatakan kini Kopi Tuli hanya tersedia di satu tempat di Depok. Selain itu, keberadaannya pun bergabung dengan coffee shop Setapak Rasa.
“Ada teman di Setapak Rasa, dan kami berkolaborasi. Akhirnya dibukalah tempat Kopi Tuli di Setapak Rasa. Jam operasionalnya sendiri, itu kita dari jam satu sampai jam delapan malam saja. Kini kami hanya memiliki satu tempat dari yang sebelumnya tiga cabang,” ujarnya dikanal Youtube Travel Journal.
Andhika mengaku, disaat pandemi ini sulit untuk mempertahankan bisnis kopi dalam bentuk kedai fisik, apalagi memiliki beberapa cabang. Sehingga ia menerima pesanan dari hanya sebatas via online.
“Juni 2020, kami memutuskan kedua tempat tersebut untuk ditutup. Kopi Tuli tetap berjalan dan beroperasi, tapi kita terbatas untuk penjualan online dan bawa pulang, tidak bisa dine in. Paling menggunakan ojek online, dan sosial media seperti instagram,” kata dia
Andhika mengatakan, selain terdampak pandemi, masalah lain yang dihadapi saat ini adalah ketika pelanggan datang dengan mengenakan masker untuk menerapkan protokol kesehatan. Padahal teman tuli ini terbiasa berkomunikasi selain dengan bahasa isyarat, mereka juga membaca gerak bibir pelanggan.
Sejak dibuka pada 2018 lalu, Kopi Tuli sempat memiliki tiga cabang yang tersebar di sekitaran Jakarta Selatan dan Depok. Namun, setelah dilanda pandemi, Kopi Tuli menghadapi kesulitan tersendiri dan akhirnya memutuskan untuk menutup cabang mereka.
Salah satu pendiri Kopi Tuli, Andhika Prakoso mengatakan kini Kopi Tuli hanya tersedia di satu tempat di Depok. Selain itu, keberadaannya pun bergabung dengan coffee shop Setapak Rasa.
“Ada teman di Setapak Rasa, dan kami berkolaborasi. Akhirnya dibukalah tempat Kopi Tuli di Setapak Rasa. Jam operasionalnya sendiri, itu kita dari jam satu sampai jam delapan malam saja. Kini kami hanya memiliki satu tempat dari yang sebelumnya tiga cabang,” ujarnya dikanal Youtube Travel Journal.
Andhika mengaku, disaat pandemi ini sulit untuk mempertahankan bisnis kopi dalam bentuk kedai fisik, apalagi memiliki beberapa cabang. Sehingga ia menerima pesanan dari hanya sebatas via online.
“Juni 2020, kami memutuskan kedua tempat tersebut untuk ditutup. Kopi Tuli tetap berjalan dan beroperasi, tapi kita terbatas untuk penjualan online dan bawa pulang, tidak bisa dine in. Paling menggunakan ojek online, dan sosial media seperti instagram,” kata dia
Andhika mengatakan, selain terdampak pandemi, masalah lain yang dihadapi saat ini adalah ketika pelanggan datang dengan mengenakan masker untuk menerapkan protokol kesehatan. Padahal teman tuli ini terbiasa berkomunikasi selain dengan bahasa isyarat, mereka juga membaca gerak bibir pelanggan.