LANGIT7.ID, Jakarta - Bisnis minuman kopi bukanlah hal baru. Kini, bisnis perkopian telah menjamur dari usaha rumahan hingga
coffee shop. Namun, bisnis kopi satu ini tergolong unik. Selain dari namanya Kopi Tuli, ternyata pemilik dan karyawannya pun merupakan penyandang tuna rungu, atau disebut teman tuli.
Sejak dibuka pada 2018 lalu, Kopi Tuli sempat memiliki tiga cabang yang tersebar di sekitaran Jakarta Selatan dan Depok. Namun, setelah dilanda pandemi, Kopi Tuli menghadapi kesulitan tersendiri dan akhirnya memutuskan untuk menutup cabang mereka.
Salah satu pendiri Kopi Tuli, Andhika Prakoso mengatakan kini Kopi Tuli hanya tersedia di satu tempat di Depok. Selain itu, keberadaannya pun bergabung dengan
coffee shop Setapak Rasa.
“Ada teman di Setapak Rasa, dan kami berkolaborasi. Akhirnya dibukalah tempat Kopi Tuli di Setapak Rasa. Jam operasionalnya sendiri, itu kita dari jam satu sampai jam delapan malam saja. Kini kami hanya memiliki satu tempat dari yang sebelumnya tiga cabang,” ujarnya dikanal Youtube Travel Journal.
![Koloborasi, Kiat Kopi Tuli dan Teman Tuli Bertahan Saat Pandemi]()
Andhika mengaku, disaat pandemi ini sulit untuk mempertahankan bisnis kopi dalam bentuk kedai fisik, apalagi memiliki beberapa cabang. Sehingga ia menerima pesanan dari hanya sebatas via online.
“Juni 2020, kami memutuskan kedua tempat tersebut untuk ditutup. Kopi Tuli tetap berjalan dan beroperasi, tapi kita terbatas untuk penjualan online dan bawa pulang, tidak bisa dine in. Paling menggunakan ojek online, dan sosial media seperti instagram,” kata dia
Andhika mengatakan, selain terdampak pandemi, masalah lain yang dihadapi saat ini adalah ketika pelanggan datang dengan mengenakan masker untuk menerapkan protokol kesehatan. Padahal teman tuli ini terbiasa berkomunikasi selain dengan bahasa isyarat, mereka juga membaca gerak bibir pelanggan.
Sehingga ketika pelanggan mereka memakai masker kesehatan, menjadikan mereka cukup kesulitan memahami permintaan pelanggan.
“Jadi mau tidak mau terkadang pelanggan harus buka dulu maskernya. Atau mereka menggunakan face shield. Sebetulnya tujuan berkolaborasi dengan Setapak Rasa juga untuk mengurangi kesulitan komunikasi antara temang dengan dan teman tuli,” jelasnya.
![Koloborasi, Kiat Kopi Tuli dan Teman Tuli Bertahan Saat Pandemi]()
Andhika mengaku, meski ada hambatan, tapi pelanggan tidak terlalu kesulitan untuk memesan karena mereka menyediakan menu dan simbol untuk memudahkan pelanggan. Sehingga, pelanggan tinggal menunjuk kepada menu yang akan dipesan.
“Kami dari Kopi Tuli sudah siap dengan menghadirkan menu yang bisa ditunjuk langsung oleh pelanggan, dan ada tanda khusus seperti warna biru yang artinya dingin, kalau merah artinya panas,” jelasnya.
Kopi Tuli ini berdiri, berawal dari kesulitan para pendirinya, yakni Andhika, Erwin dan Putri Santoso yang merupakan teman tuli untuk bisa mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan. Alasannya, perusahaan menolak karena dikhawatirkan akan menyebabkan kesulitan komunikasi dalam pekerjaan.
Sehingga mereka memutuskan untuk berbisnis dengan mendirikan Kopi Tuli. Bahkan di cabang sebelumnya, mereka juga memperkerjakan teman tuli sebagai karyawan mereka.
“Co founder bernama Putri, telah melamar di 500 perusahaan dan saya 200 perusahaan tapi semua ditolak. Banyak sekali perusahaan yang menolak teman tuli karena menjadi hambatan untuk komunikasi. Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk membuka usaha Kopi Tuli bersama satu lagi co founder yang bernama Erwin. Kami bertiga pun membangun Kopi Tuli untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa teman-teman tuli itu bisa bekerja,” jelasnya.
Walaupun memiliki beberapa kendala karena keterbatasan kemampuan literasi, tapi Andhika dkk tetap menerapkan protokol kesehatan. Selain itu, mereka juga berupaya untuk menjaga kenyamanan pelanggan dan karyawan agar tidak terkendala dalam urusan komunikasi.
(zul)