home lifestyle muslim

73% Pakaian Berakhir Jadi Limbah, Ini Pentingnya Sustainable Fashion

Senin, 29 Agustus 2022 - 20:30 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Saat ini, industri fesyen menjadi salah satu industri paling berpolusi di dunia. Industri tekstil saja menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca daripada gabungan industri penerbangan dan perkapalan.

Sebagian besar pelaku industri masih belum menyadari hal tersebut. Sehingga, mereka menjadikan industri fesyen sebagai salah satu pencemar terbesar di dunia, menghancurkan habitat yang memberikan udara segar, dan mencemari sungai yang memberi air bersih.

CEO dan Founder Hijup, Diajeng Lestari, mengutip sebuah data yang mengungkapkan 73 persen pakaian berakhir di tempat pembuangan sampah. 1,4 triliun liter air digunakan oleh industri fesyen setiap tahun. Lalu, 20 persen polusi air disebabkan oleh industri manufaktur garmen.

Baca Juga: Deretan Fesyen Lokal Ramah Lingkungan yang Bakal Jadi Tren di 2022

"Ini merupakan alarm bagi pelaku industri fesyen dan konsumen untuk lebih sadar akan kelestariann lingkungan," kata Diajeng, di kutip kanal Hijup, Senin (29/8/2022).

Masalah ini tak bisa diselesaikan jika manusia tidak berusaha mengubah perilaku. Ini sejalan dengan Surah Ar-Rad ayat 11. Salah satu bentuk solusi masalah ini adalah gerakan sustainable fashion.

"Sustainable fashion memang sebuah wacana besar, yang saat ini banyak digaungkan di mana-mana. Dan kita harus melakukannya sesegara mungkin, namun tidak terbatas ke mana nantinya baju-baju ini berlabuh, tapi juga bagaimana proses baju-baju ini dibuat," kata Diajeng.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
eco fashion industri bisnis fesyen bisnis hijau
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya