LANGIT7.ID, Jakarta - Saat ini,
industri fesyen menjadi salah satu industri paling berpolusi di dunia. Industri tekstil saja menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca daripada gabungan industri penerbangan dan perkapalan.
Sebagian besar pelaku industri masih belum menyadari hal tersebut. Sehingga, mereka menjadikan industri fesyen sebagai salah satu pencemar terbesar di dunia, menghancurkan habitat yang memberikan udara segar, dan mencemari sungai yang memberi air bersih.
CEO dan Founder Hijup, Diajeng Lestari, mengutip sebuah data yang mengungkapkan 73 persen pakaian berakhir di tempat pembuangan sampah. 1,4 triliun liter air digunakan oleh industri fesyen setiap tahun. Lalu, 20 persen polusi air disebabkan oleh industri manufaktur garmen.
Baca Juga: Deretan Fesyen Lokal Ramah Lingkungan yang Bakal Jadi Tren di 2022"Ini merupakan alarm bagi pelaku industri fesyen dan konsumen untuk lebih sadar akan kelestariann lingkungan," kata Diajeng, di kutip kanal Hijup, Senin (29/8/2022).
Masalah ini tak bisa diselesaikan jika manusia tidak berusaha mengubah perilaku. Ini sejalan dengan Surah Ar-Rad ayat 11. Salah satu bentuk solusi masalah ini adalah gerakan
sustainable fashion.
"
Sustainable fashion memang sebuah wacana besar, yang saat ini banyak digaungkan di mana-mana. Dan kita harus melakukannya sesegara mungkin, namun tidak terbatas ke mana nantinya baju-baju ini berlabuh, tapi juga bagaimana proses baju-baju ini dibuat," kata Diajeng.
Diajeng menyebut Hijup mengikuti gerakan ini. Hijup menjadi bagian dari gerakan
sustainable fashion dengan membuat koleksi berbahan dasar TENCEL. Bahan baku tencel bersumber dari kayu yang dikelola secara
sustainable dan tersertifikasi.
Baca Juga: Pesona Gambo, Batik Khas Muba dari Limbah Alami Getah Gambir"Pakaian yang diproduksi dari bahan alami tidak hanya dinilai dari bahan bakunya saja, tapi juga dari pewarna yang ramah lingkungan, penggunaan listrik dan air yang efesien. Sebuah proses yang baik akan menghasilkan hal-hal baik pula," katanya.
(jqf)