Rektor UIN Yogyakarta Sebut Siaran Religi Sedang Tidak Baik, Kenapa?
Priyo Setyawan
Ahad, 22 Mei 2022 - 21:05 WIB
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Al Makin memberikan keterangan usai pembukaan KPI di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Minggu (22/5/2022). (Foto priyo setyawan)
Rektor Universita Islam Indonesia (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Al Makin mengatakan dari hasil riset, terhadap konten penyiaran religi muapun symbol agama, baik media sosial (medsos) dan televisi dipenuhi simbol-simbol dan ritual agama yang berlebihan.
Ini menunjukkan kondisi penyiaran kegamaan sedang tidak baik, berkonflik atau berebut kekuasaan dan maupun berebut lainnya.
“Itu semua menjadi cermin cara beragama yang bukan intinya beragama. Agama menjadi candu, dan bukan menjadi penuntun akhlak,” kata Al Makin saat pembukaan Konferensi Penyiaran Indonesia di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ahad (22/5/2022).
Jika tidak segera dibenahi justru nantinya akan membahayakan eksistensi bangsa Indonesia.
Baca juga:Bagaimana Hukum Menambah Nama Suami pada Nama Istri?
Al Makin mengajak masyarakat Indonesia untuk merenungkan kembali bagaimana beragama yang lebih baik dan lebih santun. Seperti mengajak kebaikan melalui konten-konten keagamaan yang mengedukasi dan membawa manfaat.
“Butuh refleksi dan perenungan lebih dalam, bagaimana cara memunculkan isu religi di publik melalui penyiaran baik di telbisi maupun media lainnya,” harapnya.
Ini menunjukkan kondisi penyiaran kegamaan sedang tidak baik, berkonflik atau berebut kekuasaan dan maupun berebut lainnya.
“Itu semua menjadi cermin cara beragama yang bukan intinya beragama. Agama menjadi candu, dan bukan menjadi penuntun akhlak,” kata Al Makin saat pembukaan Konferensi Penyiaran Indonesia di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ahad (22/5/2022).
Jika tidak segera dibenahi justru nantinya akan membahayakan eksistensi bangsa Indonesia.
Baca juga:Bagaimana Hukum Menambah Nama Suami pada Nama Istri?
Al Makin mengajak masyarakat Indonesia untuk merenungkan kembali bagaimana beragama yang lebih baik dan lebih santun. Seperti mengajak kebaikan melalui konten-konten keagamaan yang mengedukasi dan membawa manfaat.
“Butuh refleksi dan perenungan lebih dalam, bagaimana cara memunculkan isu religi di publik melalui penyiaran baik di telbisi maupun media lainnya,” harapnya.