home masjid

Masjid Sholeh Darat, Sejarah Perlawanan Ulama Mengusir Penjajah

Selasa, 03 Agustus 2021 - 19:20 WIB
Masjid Sholeh Darat jadi saksi perlawanan ulama mengusir penjajah. (Foto: Langit7/Arief)
Masjid Sholeh Darat yang ada di Semarang menjadi saksi perlawanan ulama terhadap penjajah. Rumah ibadah ini terinspirasi perjuangan ulama terkemuka di daerah tersebut, KH Muhammad Sholeh bin Umar.

KH Muhammad Sholeh bin Umar lahir di Desa Kedung Cumpleng, Mayong, Kabupaten Jepara tahun 1870 masehi. Beliau wafat pada 18 Desember 1903. Persemayaman terakhirnya berada di pemakaman umum Bergota, Semarang.



Mbah Soleh Darat, nama lain dari Muhammad Soleh, merupakan putra dari Kiai Umar, yang merupakan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro, di Jawa Tengah bagian utara. Keturunan Mbah Soleh Darat ini memiliki tiga orang cicit, yakni Gus Lukman, Gus Novan dan dua orang perempuan, salah satunya sudah meninggal dunia.

Keturunan Mbah Soleh Darat tinggal di sekitar masjid. Mereka masih menyimpan peninggalan leluhurnya di antaranya kitab dan kentongan masjid setinggi 1,5 meter yang kini disimpan di sekretariat masjid.

Kenapa disimpan? dikhawatirkan ada bagiannya yang diambil warga karena dianggap memiliki karomah.

"Jadi memang tidak ada bagian yang tersisa materialnya dari langgar panggung yang dibangun KH Sholeh Darat, kecuali kentongan. Pondok pesantrennya informasinya juga dibakar oleh tentara Jepang," kata Ketua Takmir Masjid Sholeh Darat, Khomsin Basri.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
masjid ulama semarang
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya