Pilpres 2024 Makin Dekat, Poltracking Rilis Kandidat Capres-Cawapres Terkuat
Muhajirin
Kamis, 09 Juni 2022 - 16:35 WIB
Poltracking Indonesia merilis hasil Survei Nasional Proyeksi Kandidat Kuat Kandidasi Pilpres 2024 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (9/6/2022) (Dok Poltracking)
Konstelasi politik menjelang Pilpres 2024 semakin terlihat, sebagian partai telah membentuk koalisi, sebagian lainnya terus melakukan penjajakan.
Namun, sampai sekarang belum ada satu partai, yang secara definitif mendeklarasikan calon presiden dan wakil presiden. Ada berbagai pertimbangan bagi partai politik untuk memutuskan calon presiden dan wakil presiden.
Salah satu pertimbangan terpenting adalah figur kuat yang secara elektabilitas mendapatkan dukungan signifikan dari pemilih. Kesalahan partai dalam mengusung capres dengan tingkat elektabilitas rendah akan berdampak pada disinsentif suara partai.
Maka, wajar jika figur dengan tingkat keterpilihan tinggi sebagai capres menjadi daya tarik partai dan koalisi. Di sisi lain, desain pencalonan berpasangan antara capres dan cawapres membuka ruang bagi pentingnya memperhatikan figur cawapres. Figur cawapres yang kuat secara elektoral juga berimplikasi bagi bekerjanya 'efek ekor jas' sebagaimana figur capres. Itu karena model pencalonan berpasangan.
Baca Juga: Lantik Anggota KPU dan Bawaslu, Jokowi: Segera Tancap Gas Pemilu 2024
Poin tersebut yang mendorong Poltracking Indonesia melakukan Survei Nasional “Proyeksi Kandidat Kuat Kandidasi Pilpres 2024”. Survei itu digelar pada 16-22 Mei 2022 dengan menggunakan metode multistage random sampling.
Namun, sampai sekarang belum ada satu partai, yang secara definitif mendeklarasikan calon presiden dan wakil presiden. Ada berbagai pertimbangan bagi partai politik untuk memutuskan calon presiden dan wakil presiden.
Salah satu pertimbangan terpenting adalah figur kuat yang secara elektabilitas mendapatkan dukungan signifikan dari pemilih. Kesalahan partai dalam mengusung capres dengan tingkat elektabilitas rendah akan berdampak pada disinsentif suara partai.
Maka, wajar jika figur dengan tingkat keterpilihan tinggi sebagai capres menjadi daya tarik partai dan koalisi. Di sisi lain, desain pencalonan berpasangan antara capres dan cawapres membuka ruang bagi pentingnya memperhatikan figur cawapres. Figur cawapres yang kuat secara elektoral juga berimplikasi bagi bekerjanya 'efek ekor jas' sebagaimana figur capres. Itu karena model pencalonan berpasangan.
Baca Juga: Lantik Anggota KPU dan Bawaslu, Jokowi: Segera Tancap Gas Pemilu 2024
Poin tersebut yang mendorong Poltracking Indonesia melakukan Survei Nasional “Proyeksi Kandidat Kuat Kandidasi Pilpres 2024”. Survei itu digelar pada 16-22 Mei 2022 dengan menggunakan metode multistage random sampling.