Startup Sektor Pertanian Ini Bantu Petani Naik Kelas
Mahmuda attar hussein
Kamis, 05 Agustus 2021 - 18:00 WIB
Ilustrasi startup pertanian. Foto: Langit7/istock
Berbagai macam produk hasil tani kesulitan untuk berkembang meski memiliki pasar yang cukup jelas. Kendalanya beragam, mulai dari modal, hingga kepada ketertarikan berbisnis di sektor pertanian tapi terkendala dalam hal kemampuan.
Mencoba memecahkan masalah tersebut, Andreas Senjaya bersama timnya menciptakan sebuah perusahaan rintisan yang bernama iGrow. Platform online ini dihadirkan untuk menghubungkan berbagai kendala tersebut sehingga akhirnya menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan untuk berbagai pihak terkait.
Didirikan pada 2014, iGrow dalam perkembangannya menghadirkan berbagai serangkaian produk pertanian. Melalui startup-nya ini ia berhasil menghubungkan petani untuk bisa menjual produknya secara langsung kepada pembeli.
“Kita jadikan marketnya saat ini menjadi Bussines to Bussines (B2B) dan kita fokus kepada pembiayaan. Jadi didasari dari memilih market yang besar, industri strategis dan akhirnya kita memilih permasalahan yang tepat untuk diselesaikan, kita hadirkan solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,” katanya dikanal Youtube Gerakan Nasional 1000 Startup Digital.
Pemikirannya untuk menciptakan perusahaan rintisan ini, bermula ketika ia masih menjadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia. Kala itu, interaksi yang ia lakukan di organisasinya menimbulkan empati terhadap berbagai permasalahan masing-masing anggota.
Seketika itu, kata dia, interaksi itu melatih empati dalam mengambil keputusan melalui perhatian kepada orang. Sehingga akhirnya hal itu terbawa terus ke dalam karirnya kala membuat perusahaan rintisan iGrow.
“Itu kebawa akhirnya sampai mendirikan startup, bagaimana kita memunculkan empati, dan mengetahui masalah dari pengguna, dari situ anggota tim kita merasa kita bikin tim ini tulus untuk maju bersama. Bukan hanya sekadar memanfaatkan satu pihak saja,” ujarnya.
Mencoba memecahkan masalah tersebut, Andreas Senjaya bersama timnya menciptakan sebuah perusahaan rintisan yang bernama iGrow. Platform online ini dihadirkan untuk menghubungkan berbagai kendala tersebut sehingga akhirnya menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan untuk berbagai pihak terkait.
Didirikan pada 2014, iGrow dalam perkembangannya menghadirkan berbagai serangkaian produk pertanian. Melalui startup-nya ini ia berhasil menghubungkan petani untuk bisa menjual produknya secara langsung kepada pembeli.
“Kita jadikan marketnya saat ini menjadi Bussines to Bussines (B2B) dan kita fokus kepada pembiayaan. Jadi didasari dari memilih market yang besar, industri strategis dan akhirnya kita memilih permasalahan yang tepat untuk diselesaikan, kita hadirkan solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,” katanya dikanal Youtube Gerakan Nasional 1000 Startup Digital.
Pemikirannya untuk menciptakan perusahaan rintisan ini, bermula ketika ia masih menjadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia. Kala itu, interaksi yang ia lakukan di organisasinya menimbulkan empati terhadap berbagai permasalahan masing-masing anggota.
Seketika itu, kata dia, interaksi itu melatih empati dalam mengambil keputusan melalui perhatian kepada orang. Sehingga akhirnya hal itu terbawa terus ke dalam karirnya kala membuat perusahaan rintisan iGrow.
“Itu kebawa akhirnya sampai mendirikan startup, bagaimana kita memunculkan empati, dan mengetahui masalah dari pengguna, dari situ anggota tim kita merasa kita bikin tim ini tulus untuk maju bersama. Bukan hanya sekadar memanfaatkan satu pihak saja,” ujarnya.