LANGIT7.ID, Jakarta - Berbagai macam produk hasil tani kesulitan untuk berkembang meski memiliki pasar yang cukup jelas. Kendalanya beragam, mulai dari modal, hingga kepada ketertarikan berbisnis di sektor pertanian tapi terkendala dalam hal kemampuan.
Mencoba memecahkan masalah tersebut, Andreas Senjaya bersama timnya menciptakan sebuah perusahaan rintisan yang bernama iGrow. Platform online ini dihadirkan untuk menghubungkan berbagai kendala tersebut sehingga akhirnya menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan untuk berbagai pihak terkait.
Didirikan pada 2014, iGrow dalam perkembangannya menghadirkan berbagai serangkaian produk pertanian. Melalui startup-nya ini ia berhasil menghubungkan petani untuk bisa menjual produknya secara langsung kepada pembeli.
“Kita jadikan marketnya saat ini menjadi Bussines to Bussines (B2B) dan kita fokus kepada pembiayaan. Jadi didasari dari memilih market yang besar, industri strategis dan akhirnya kita memilih permasalahan yang tepat untuk diselesaikan, kita hadirkan solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,” katanya dikanal Youtube Gerakan Nasional 1000 Startup Digital.
Pemikirannya untuk menciptakan perusahaan rintisan ini, bermula ketika ia masih menjadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia. Kala itu, interaksi yang ia lakukan di organisasinya menimbulkan empati terhadap berbagai permasalahan masing-masing anggota.
Seketika itu, kata dia, interaksi itu melatih empati dalam mengambil keputusan melalui perhatian kepada orang. Sehingga akhirnya hal itu terbawa terus ke dalam karirnya kala membuat perusahaan rintisan iGrow.
“Itu kebawa akhirnya sampai mendirikan startup, bagaimana kita memunculkan empati, dan mengetahui masalah dari pengguna, dari situ anggota tim kita merasa kita bikin tim ini tulus untuk maju bersama. Bukan hanya sekadar memanfaatkan satu pihak saja,” ujarnya.
Jay, sapaan akrabnya, mengatakan melalui model bisnis B2B ini, iGrow mampu menjawab persoalan banyak pihak. Di mana investor bisa membeli paket benih tanaman, petani tanpa lahan bisa menjadi pengelola, sementara pemilik lahan bisa menjadi penyewa.
Jay berkisah tadinya tidak pernah terbayang untuk membuat perusahaan rintisan. Rencananya dalam karir adalah menjadi seorang profesional dan seketika modal terkumpul lantas beralih menjadi wirausaha.
“Tapi jalan kehidupan membawa saya untuk langsung terjun ke dunia startup, bertemu dengan co founder. Di situ saya terjebak dalam arti positif, manisnya berjuang meraih mimpi, akhirnya pilihan itu menjadi pilihan 100 persen, tidak ada lagi presentase untuk yang lain,” ujarnya.
Sebagai CEO iGrow ia selalu berupaya untuk menyeimbangkan antara wewenang dengan tanggungjawab. Pengalamannya dulu ketika masih aktif di organisasi kampus membantunya untuk bisa menjadi pemimpin perusahaan yang bisa menginspirasi.
“Walaupun kita bekerja di bawah kepemimpinan orang lain, tapi selalu ada titik temu untuk aktualisasi diri. Punya wewenang di sini juga orang lain memiliki keterbatasan yang harus kita mengerti,” jelasnya.
Dalam pengembangan diri dan perusahaannya, Jay tidak pernah berhenti dalam belajar. Baginya belajar melalui media apa pun akan menjadi intervensi untuk mempercepat proses perkembangan.
“Jadi ketika sudah menjadi profesional kita punya bekal lebih, di mana selain mendorong teman-teman karyawan dengan motivasi insentif, kita juga tidak bisa sewenang-wenang bertindak berdasarkan manajemen struktural organisasi, tapi kita mampu menggerakkan meraka dengan value dan mimpi bersama yang ingin kita tuju,” imbuhnya.
(zul)