Tafsir Surat As-Shaffat Ayat 102: Bersabar dalam Ketaatan
Fajar adhitya
Ahad, 03 Juli 2022 - 07:05 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/iStock.
Idul Adha 1443 Hijriah jatuh pada Ahad, 10 Juli 2022. Meskipun bentuk pengorbanan sudah ada sejak Nabi Adam, namun syariat kurban bermula dari peristiwa pengorbanan Nabi Ismail 'Alaihis salam.
Kisahnya bermula dari mimpi Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya, Ismail. Maka Nabi Ibrahim pun menyampaikan mimpinya tersebut kepada anaknya.
Allah mengabadikan percakapan Nabi Ibrahim dengan Ismail dalam Al-Qur'an, surat As-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: "Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
Baca Juga:Tausiah Ahad Pagi: Menatap Idul Qurban dengan Takwa
Nabi Ismail langsung menyanggupi permintaan ayahnya ketika ia tahu bahwa pengorbanan tersebut merupakan perintah Allah. Pada sisi lain, Nabi Ibrahim sedang menghadapi ujian yang sangat berat karena akan menyembelih putranya.
Kisahnya bermula dari mimpi Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya, Ismail. Maka Nabi Ibrahim pun menyampaikan mimpinya tersebut kepada anaknya.
Allah mengabadikan percakapan Nabi Ibrahim dengan Ismail dalam Al-Qur'an, surat As-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: "Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
Baca Juga:Tausiah Ahad Pagi: Menatap Idul Qurban dengan Takwa
Nabi Ismail langsung menyanggupi permintaan ayahnya ketika ia tahu bahwa pengorbanan tersebut merupakan perintah Allah. Pada sisi lain, Nabi Ibrahim sedang menghadapi ujian yang sangat berat karena akan menyembelih putranya.