Ismail Kalosi, Menyusuri Lereng dan Melintasi Gunung demi Dakwah
Andi amriani
Jum'at, 06 Agustus 2021 - 23:23 WIB
Ustadz Ismail Kalosi, menyusuri jalan dakwah di lereng gunung Kabupaten Enrekang. Foto: istimewa
Ustadz Ismail Kalosikini berusia 50 tahun. Kendaraan yang digunakan dalam berdakwah sudah termakan usia. Namun, semangatnya untuk berdakwah masih berkobar. Dia menyusuri lereng, melintasi gunung, dan melewati jalan yang rusak. Tujuannya untuk menyampaikan dakwah kepada masyarakat di perkampungan Kabupaten Enrekang, Sulsel.
Waktunya habis di perjalanan pun tak masalah. Pekerjaan di bidang dakwah, bagi dia, memang menghabiskan waktu di luar rumah. Bermalam di kampung yang satu, lalu lanjut ke kampung yang lain. Begitu seterusnya, seakan tak pernah putus. Demi menapaktilasi jejak dakwah Rasulullah SAW.
Di medan dakwah pun, ia kehilangan indera pendengarannya sejak 20 tahun lalu. Saat mengemban tugas dakwahnya di tanah Papua, ustadz yang terkenal baik dan ramah ini, terjangkit penyakit malaria. Dari situlah pendengarannya mulai terganggu. Pun keterbatasan itu tidak menyurutkan semangatnya hingga kini.
Salah seorang sahabatnya, Ustadz Ilham Syawal, yang juga Pengasuh Pesantren Hidayatullah Kabupaten Enrekang, menyampaikan kesan-kesannya soal ustadz Ismail Kalosi. Menurut dia, dalam sebulan, sang tokoh ini hanya satu pekan berada di rumah.
Selebihnya, dia habiskan untuk bersilaturrahmi dan berdakwah ke kampung-kampung binaannya. Sebagian besar berada di daerah pelosok Enrekang. "Yang kadang menjadi tantangan tersendiri bagi beliau selama ini adalah kendaraannya. Motor yang selama ini digunakan ustadz Ismail Kalosi kondisinya sudah udzur dan acap kali rusak di tengah perjalanan," katanya, Jumat (6/8/2021).
Bulan ini, seorang muhsinin di Makassar, menitipkan pada BMH sebuah motor, agar diberikan kepada ustadz Ismail. "Alhamdulillah kita sudah serahkan pada, Ahad 1 Agustus 2021 yang lalu, di Kecamatan Sudu-Enrekang."
"Terima kasih kepada Sahabat BMH yang telah menghadiahkan armada dai ini sebagai teman berjuang Ustadz Ismail Kalosi, menyusuri jalan dakwahnya di lereng-lereng gunung kabupaten Enrekang," katanya.
Waktunya habis di perjalanan pun tak masalah. Pekerjaan di bidang dakwah, bagi dia, memang menghabiskan waktu di luar rumah. Bermalam di kampung yang satu, lalu lanjut ke kampung yang lain. Begitu seterusnya, seakan tak pernah putus. Demi menapaktilasi jejak dakwah Rasulullah SAW.
Di medan dakwah pun, ia kehilangan indera pendengarannya sejak 20 tahun lalu. Saat mengemban tugas dakwahnya di tanah Papua, ustadz yang terkenal baik dan ramah ini, terjangkit penyakit malaria. Dari situlah pendengarannya mulai terganggu. Pun keterbatasan itu tidak menyurutkan semangatnya hingga kini.
Salah seorang sahabatnya, Ustadz Ilham Syawal, yang juga Pengasuh Pesantren Hidayatullah Kabupaten Enrekang, menyampaikan kesan-kesannya soal ustadz Ismail Kalosi. Menurut dia, dalam sebulan, sang tokoh ini hanya satu pekan berada di rumah.
Selebihnya, dia habiskan untuk bersilaturrahmi dan berdakwah ke kampung-kampung binaannya. Sebagian besar berada di daerah pelosok Enrekang. "Yang kadang menjadi tantangan tersendiri bagi beliau selama ini adalah kendaraannya. Motor yang selama ini digunakan ustadz Ismail Kalosi kondisinya sudah udzur dan acap kali rusak di tengah perjalanan," katanya, Jumat (6/8/2021).
Bulan ini, seorang muhsinin di Makassar, menitipkan pada BMH sebuah motor, agar diberikan kepada ustadz Ismail. "Alhamdulillah kita sudah serahkan pada, Ahad 1 Agustus 2021 yang lalu, di Kecamatan Sudu-Enrekang."
"Terima kasih kepada Sahabat BMH yang telah menghadiahkan armada dai ini sebagai teman berjuang Ustadz Ismail Kalosi, menyusuri jalan dakwahnya di lereng-lereng gunung kabupaten Enrekang," katanya.
(jak)