Jangan Terlambat, Deteksi Kanker Payudara Sejak Dini
Fifiyanti Abdurahman
Rabu, 20 Juli 2022 - 13:19 WIB
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
Kanker payudaramasih menjadi penyebab kematian tertinggi bagi perempuan di Indonesia yang terdiagnosa kanker. Data Globocan 2020 menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat kasus baru kanker payudara mendekati 66 ribu jiwa dengan tingkat kematian lebih dari 22 ribu jiwa. Dan yang memprihatinkan adalah 70 persen pasien datang ke dokter dalam status stadium lanjut.
Dokter Rumah Sakit Kanker Dharmais, Walta Gautama, menyebut kebiasaan menunda untuk memeriksa kelainan pada payudara merupakan salah satu faktor penderita datang pada kondisi stadium lanjut.
Baca juga: Jumlah Penderita Kanker Naik, YKPI dan DWP Kemhan Sosialisasi Deteksi Dini
“Banyak wanita menunda untuk memeriksa kelainan payudara karena takut didiagnosis kanker, takut dioperasi, takut kemoterapi. Padahal kanker bukan vonis mati, kanker bukan kutukan Tuhan, kanker payudara bisa sembuh asalkan lakukan beberapa hal seperti deteksi dini dan terapi tepat, “ kata Walta dalam Webinar Skrining dan Deteksi Dini Kanker Payudara, Selasa (19/7/2022).
Dia melanjutkan, pasien kanker payudara yang menolak operasi umumnya berisiko dua kali lebih besar untuk meninggal dibanding dengan yang bersedia dioperasi.
“Kemoterapi hanya menyerang sel yang membelah dengan cepat yang merupakan sifat sel kanker. Efek samping kemoterapi memang tidak menyenangkan seperti rambut rontok sampai botak, sariawan, mual – muntah," tuturnya.
Maka itu, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) ini meminta untuk segera ke dokter apabila menemui perbedaan pada payudara. Misalnya terlihat perubahan bentuk, ukuran, warna, keluar cairan yang tidak seharusnya pada puting dan lainnya.
Dokter Rumah Sakit Kanker Dharmais, Walta Gautama, menyebut kebiasaan menunda untuk memeriksa kelainan pada payudara merupakan salah satu faktor penderita datang pada kondisi stadium lanjut.
Baca juga: Jumlah Penderita Kanker Naik, YKPI dan DWP Kemhan Sosialisasi Deteksi Dini
“Banyak wanita menunda untuk memeriksa kelainan payudara karena takut didiagnosis kanker, takut dioperasi, takut kemoterapi. Padahal kanker bukan vonis mati, kanker bukan kutukan Tuhan, kanker payudara bisa sembuh asalkan lakukan beberapa hal seperti deteksi dini dan terapi tepat, “ kata Walta dalam Webinar Skrining dan Deteksi Dini Kanker Payudara, Selasa (19/7/2022).
Dia melanjutkan, pasien kanker payudara yang menolak operasi umumnya berisiko dua kali lebih besar untuk meninggal dibanding dengan yang bersedia dioperasi.
“Kemoterapi hanya menyerang sel yang membelah dengan cepat yang merupakan sifat sel kanker. Efek samping kemoterapi memang tidak menyenangkan seperti rambut rontok sampai botak, sariawan, mual – muntah," tuturnya.
Maka itu, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) ini meminta untuk segera ke dokter apabila menemui perbedaan pada payudara. Misalnya terlihat perubahan bentuk, ukuran, warna, keluar cairan yang tidak seharusnya pada puting dan lainnya.