LANGIT7.ID - , Jakarta -
Kanker payudara masih menjadi penyebab kematian tertinggi bagi perempuan di Indonesia yang terdiagnosa kanker. Data Globocan 2020 menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat kasus baru kanker payudara mendekati 66 ribu jiwa dengan tingkat kematian lebih dari 22 ribu jiwa. Dan yang memprihatinkan adalah 70 persen pasien datang ke dokter dalam status stadium lanjut.
Dokter Rumah Sakit Kanker Dharmais, Walta Gautama, menyebut kebiasaan menunda untuk memeriksa kelainan pada payudara merupakan salah satu faktor penderita datang pada kondisi stadium lanjut.
Baca juga: Jumlah Penderita Kanker Naik, YKPI dan DWP Kemhan Sosialisasi Deteksi Dini“Banyak wanita menunda untuk memeriksa kelainan payudara karena takut didiagnosis kanker, takut dioperasi, takut kemoterapi. Padahal kanker bukan vonis mati, kanker bukan kutukan Tuhan, kanker payudara bisa sembuh asalkan lakukan beberapa hal seperti deteksi dini dan terapi tepat, “ kata Walta dalam Webinar Skrining dan Deteksi Dini Kanker Payudara, Selasa (19/7/2022).
Dia melanjutkan, pasien kanker payudara yang menolak operasi umumnya berisiko dua kali lebih besar untuk
meninggal dibanding dengan yang bersedia dioperasi.
“Kemoterapi hanya menyerang sel yang membelah dengan cepat yang merupakan sifat sel kanker. Efek samping kemoterapi memang tidak menyenangkan seperti
rambut rontok sampai botak, sariawan, mual – muntah," tuturnya.
Maka itu, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) ini meminta untuk segera ke dokter apabila menemui perbedaan pada payudara. Misalnya terlihat perubahan bentuk, ukuran, warna, keluar cairan yang tidak seharusnya pada puting dan lainnya.
Baca juga: Bahaya Sinar UV, PBB Rilis Aplikasi Cegah Kanker KulitSementara, penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Pertahanan (DPW Kemhan), Metty M. Herindra mengatakan keterlambatan dalam penanganan kanker terjadi karena minimnya pengetahuan terkait kanker.
“Karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang kanker, maka dalam banyak kasus di Indonesia sering terjadi keterlambatan penanganan kanker, sehingga upaya penyelamatan menjadi lebih sulit,” ujar Metty.
Dia pun menyarankan untuk melakukan
deteksi sedini mungkin agar banyak orang terselamatkan.
"Saya berharap akan lebih banyak orang yang terselamatkan dengan adanya kegiatan deteksi dini," pungkasnya.
(est)