Berusia Ratusan Tahun, Ini Masjid Bersejarah dan Tertua di Inggris
Andi Muhammad
Kamis, 21 Juli 2022 - 22:32 WIB
Masjid Shah Jhahan yang berusia ratusan tahun ini bergaya India Mughal. Foto: Surrey Live.
Inggris merupakan salah satu destinasi favorit turis seluruh dunia. Banyak spot-spot menarik di negara Ratu Elizabeth ini untuk dikunjungi.
Di Inggris, ada sebuah masjid tertua di Inggris yang menjadi cagar budaya. Masjid tersebut adalah Masjid Shah Jhahan yang berusia ratusan tahun.
Rumah ibadah umat muslim ini bergaya India Mughal. Nama masjid ini diambil dari nama Shah Jahan Begum, salah satu dari empat penguasa muslim dari India yang memerintah antara 1819 hingga 1926.
Baca Juga:Masjid di El Corps Building, Pengingat Waktu Shalat untuk Pekerja
Melansir Shah Jhahan Mosque, Masjid Shah Jahan dibangun pada tahun 1889 di Woking, Inggris oleh Dr Gottlieb Wilhelm Leitner. Gottlieb sendiri merupakan seorang ilmuan Yahudi lahir di Hongaria.
Gottlieb sangat tertarik dengan kehidupan di dunia Timur. Bahkan, ia mampu menguasai 25 bahasa termasuk Bahasa Arab. Ilmuwan ini juga kerap kali berkeliling dunia untuk mempelajari Islam lebih mendalam.
Untuk bisa mempelajari budaya Timur termasuk Islam, Gottlieb mengganti namanya menjadi Abdur Rasheed Sayyah.
Di Inggris, ada sebuah masjid tertua di Inggris yang menjadi cagar budaya. Masjid tersebut adalah Masjid Shah Jhahan yang berusia ratusan tahun.
Rumah ibadah umat muslim ini bergaya India Mughal. Nama masjid ini diambil dari nama Shah Jahan Begum, salah satu dari empat penguasa muslim dari India yang memerintah antara 1819 hingga 1926.
Baca Juga:Masjid di El Corps Building, Pengingat Waktu Shalat untuk Pekerja
Melansir Shah Jhahan Mosque, Masjid Shah Jahan dibangun pada tahun 1889 di Woking, Inggris oleh Dr Gottlieb Wilhelm Leitner. Gottlieb sendiri merupakan seorang ilmuan Yahudi lahir di Hongaria.
Gottlieb sangat tertarik dengan kehidupan di dunia Timur. Bahkan, ia mampu menguasai 25 bahasa termasuk Bahasa Arab. Ilmuwan ini juga kerap kali berkeliling dunia untuk mempelajari Islam lebih mendalam.
Untuk bisa mempelajari budaya Timur termasuk Islam, Gottlieb mengganti namanya menjadi Abdur Rasheed Sayyah.