Ustadz Wijayanto: Rezeki Bukan Banyaknya Materi tapi Berkah di Dalamnya
Mahmuda attar hussein
Senin, 09 Agustus 2021 - 07:20 WIB
Ilustrasi menabung berkah dalam rezeki Foto: Langit7.id/Istock
Rezeki merupakan bagian takdir yang masih bisa dubah melalui usaha, dan termasuk ke dalam takdir mugayyar. Walaupun, rezeki sudah memiliki ketetapan, bukan berarti manusia tidak berusaha untuk menambah keberkahannya melalui ikhtiar, demikian disampaikan Ustadz Wijayanto.
Itulah jenis takdir yang masih memiliki peluang di dalamnya. Terkait untuk mendapatkan berkah maka perlu menerapkan apa yang telah diajarkan oleh Islam melalui silaturahmi, doa, dan ikhtiar.
Penting untuk diingat, lanjut Wijayanto, dalam rezeki itu bukan seberapa banyak penghasilan dan materi yang didapatkan, melainkan berkah yang ada di dalamnya. Sementara, berkah itu tidak bisa diukur dan tidak memiliki ukuran.
“Kita gaji Rp50 juta sebulan cukup di tengah orang ODP, yaitu orang ndak punya penghasilan, atau OTG, yaitu orang tanpa gaji. Sebulan cukup kita sudah enak, PPKM dilanjutkan sampai akhir Agustus pun tidak masalah. Tapi kalau anak kena narkoba, istri bawel, ngorok, ngentutan, ngileran, suaminya galak setengah mati, sudah hilang berkahnya,” ujarnya sambil berkelakar ketika memberika tausiyah di Webinar Ada Keberkahan di Dalam Asuransi Syariah.
Tuhan menciptakan segala hal di dunia ini dengan berpasang-pasangan, tidak terkecuali dengan kekayaan. Namun, kekayaan di sini tidak dipasangkan dengan kemiskinan, tapi Allah memasangkan kekayaan dengan kecukupan.
Artinya, rezeki dalam hal ini perlu ada upaya dan usaha dari manusia untuk mendapatkannya, tidak semata-mata sudah semuanya ditentukan. Maka berkah rezeki adalah suatu yang diusahakan, dalam pengertian takdir mugayyar ini.
“Pilih mana gaji Rp50 juta keluarga tidak tenang, dengan gaji Rp100 juta tapi keluarganya aman dan tentram, pasti Rp100 juta yang diambil. Tapi intinya adalah ketenangan dalam hidup kita adalah keberkahan,” candanya lagi.
Itulah jenis takdir yang masih memiliki peluang di dalamnya. Terkait untuk mendapatkan berkah maka perlu menerapkan apa yang telah diajarkan oleh Islam melalui silaturahmi, doa, dan ikhtiar.
Penting untuk diingat, lanjut Wijayanto, dalam rezeki itu bukan seberapa banyak penghasilan dan materi yang didapatkan, melainkan berkah yang ada di dalamnya. Sementara, berkah itu tidak bisa diukur dan tidak memiliki ukuran.
“Kita gaji Rp50 juta sebulan cukup di tengah orang ODP, yaitu orang ndak punya penghasilan, atau OTG, yaitu orang tanpa gaji. Sebulan cukup kita sudah enak, PPKM dilanjutkan sampai akhir Agustus pun tidak masalah. Tapi kalau anak kena narkoba, istri bawel, ngorok, ngentutan, ngileran, suaminya galak setengah mati, sudah hilang berkahnya,” ujarnya sambil berkelakar ketika memberika tausiyah di Webinar Ada Keberkahan di Dalam Asuransi Syariah.
Tuhan menciptakan segala hal di dunia ini dengan berpasang-pasangan, tidak terkecuali dengan kekayaan. Namun, kekayaan di sini tidak dipasangkan dengan kemiskinan, tapi Allah memasangkan kekayaan dengan kecukupan.
Artinya, rezeki dalam hal ini perlu ada upaya dan usaha dari manusia untuk mendapatkannya, tidak semata-mata sudah semuanya ditentukan. Maka berkah rezeki adalah suatu yang diusahakan, dalam pengertian takdir mugayyar ini.
“Pilih mana gaji Rp50 juta keluarga tidak tenang, dengan gaji Rp100 juta tapi keluarganya aman dan tentram, pasti Rp100 juta yang diambil. Tapi intinya adalah ketenangan dalam hidup kita adalah keberkahan,” candanya lagi.