MES Sebut Industri Kreatif Syariah Punya Prospek yang Baik
Mahmuda attar hussein
Senin, 09 Agustus 2021 - 15:00 WIB
Ilustrasi industri ekonomi kreatif syariah. Foto: Langit7/istock
Ekonomi kreatif menjadi sebuah kreasi yang dianggap mampu menciptakan nilai harga lebih tinggi. Melalui industri kreatif diharapkan meningkatkan daya saing dan pendapatan nasional.
Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (PP MES) sekaligus Wakil Rektor Universitas Paramadina, Handi Risza mengatakan terkait dengan ruang lingkup syariah maka dalam Industri Kreatif Syariah (IKRA) perlu dibangun ekosistem yang didalamnya mengandung segala unsur syariat Islam.
“Perlu dibangun ekosistem syariah, yang di dalamnya ada value change, hulu-hilir, dari operasional, distribusi, hingga konsumsi. IKRA ini memperbesar ruang lingkup industri kreatif, apalagi Indonesia cukup menjadi sorotan dalam dalam World Islamic Economic Forum,” jelasnya dalam diskusi virtual Prospek Industri Kreatif Syariah, Senin (9/8).
Handi menyebutkan, situasi pandemi memang berdampak pada beberapa sektor, khususnya ekonomi. Namun, ia tetap optimistis IKRA bisa memiliki prospek yang baik ke depan.
Apalagi belakangan, sektor makanan dan minuman mengalami kenaikan di saat pandemi. Sehingga perlu adanya pemikiran alternatif untuk menjaga ritme tingkat dan volume produksi disaat pandemi.
“Hikmahnya banyak industri kreatif muncul tidak hanya memproduksi tapi juga men-delivery-nya. Triwulan II ini justru industri makanan dan minuman meningkat pertumbuhannya selain transportasi,” ujarnya.
Selain mengalami perkembangan yang cukup baik, sektor industri makanan dan minuman juga semakin bervariatif. Hal ini dipercaya menjadi suatu pemicu yang membuat konsumen lebih tertarik.
Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (PP MES) sekaligus Wakil Rektor Universitas Paramadina, Handi Risza mengatakan terkait dengan ruang lingkup syariah maka dalam Industri Kreatif Syariah (IKRA) perlu dibangun ekosistem yang didalamnya mengandung segala unsur syariat Islam.
“Perlu dibangun ekosistem syariah, yang di dalamnya ada value change, hulu-hilir, dari operasional, distribusi, hingga konsumsi. IKRA ini memperbesar ruang lingkup industri kreatif, apalagi Indonesia cukup menjadi sorotan dalam dalam World Islamic Economic Forum,” jelasnya dalam diskusi virtual Prospek Industri Kreatif Syariah, Senin (9/8).
Handi menyebutkan, situasi pandemi memang berdampak pada beberapa sektor, khususnya ekonomi. Namun, ia tetap optimistis IKRA bisa memiliki prospek yang baik ke depan.
Apalagi belakangan, sektor makanan dan minuman mengalami kenaikan di saat pandemi. Sehingga perlu adanya pemikiran alternatif untuk menjaga ritme tingkat dan volume produksi disaat pandemi.
“Hikmahnya banyak industri kreatif muncul tidak hanya memproduksi tapi juga men-delivery-nya. Triwulan II ini justru industri makanan dan minuman meningkat pertumbuhannya selain transportasi,” ujarnya.
Selain mengalami perkembangan yang cukup baik, sektor industri makanan dan minuman juga semakin bervariatif. Hal ini dipercaya menjadi suatu pemicu yang membuat konsumen lebih tertarik.