Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home masjid detail berita

Misteri Rumah Tanpa Berkat: Ini Mengapa Memelihara Anjing dan Gambar di Rumah Dilarang

miftah yusufpati Sabtu, 02 Mei 2026 - 03:30 WIB
Misteri Rumah Tanpa Berkat: Ini Mengapa Memelihara Anjing dan Gambar di Rumah Dilarang
Pemeliharaan hewan juga harus disesuaikan dengan fungsi kemaslahatan, bukan sekadar mengikuti tren estetika semata. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam tata letak rumah modern, kehadiran ornamen seni, patung, dan hewan peliharaan seperti anjing sering kali dipandang sebagai simbol estetika, prestise, serta kenyamanan keluarga. Namun, dalam cakrawala doktrin Ahlu Sunnah wal Jamaah, ruang domestik tidak pernah dipisahkan dari dimensi spiritual.

Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi dalam risalahnya, Al-Iman bil Malaikah, mengangkat sebuah aturan kosmis yang sangat spesifik mengenai tempat tinggal yang bersih dari anasir penghalang rahmat: malaikat enggan memasuki hunian yang menyimpan gambar makhluk bernyawa, patung, atau anjing.

Aturan ini bukan sekadar larangan normatif tanpa dasar. Ia berakar pada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Thalhah radhiyallahu anhu. Nabi bersabda:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ

Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk pada rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar bernyawa.

Dalam riwayat lain yang diklasifikasikan oleh Imam Bukhari, kata patung (timtsal) juga disebutkan secara eksplisit. Larangan ini memicu perdebatan interpretatif yang panjang di kalangan ulama mengenai illat atau alasan hukum di balik penolakan tersebut.

Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa malaikat yang dimaksud di sini adalah malaikat pembawa rahmat, keberkahan, dan permohonan ampun. Malaikat pencatat amal tetap akan bersama manusia di mana pun mereka berada.

Syaikh asy-Syaqawi menekankan bahwa keberadaan gambar makhluk bernyawa, seperti lukisan atau foto yang menyerupai ciptaan Tuhan secara utuh, serta patung, mengingatkan pada praktik penyembahan berhala di masa lalu. Dalam pandangan teologi Islam, meniru ciptaan makhluk bernyawa dalam bentuk tiga dimensi dianggap sebagai bentuk penyerupaan yang melampaui batas kewajaran. Oleh karena itu, ruangan yang dipenuhi objek-objek tersebut kehilangan suasana ketenangan atau sakinah.

Sementara itu, terkait anjing, ulama memberikan pengecualian yang ketat. Syariat Islam membolehkan pemeliharaan anjing untuk tujuan spesifik seperti menjaga keamanan, berburu, dan menggembala ternak. Namun, memeliharanya sekadar sebagai hewan peliharaan di dalam rumah dinilai dapat mengurangi pahala dan menghalangi malaikat masuk. Dalam konteks sosio-historis, anjing sering dikaitkan dengan najis yang berat pada air liurnya, yang menuntut tingkat kebersihan yang tinggi di dalam sebuah hunian.

Jika kita melihat dari perspektif ilmu sosiologi agama dan etika lingkungan, seperti yang diuraikan oleh Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Religion and the Order of Nature, tatanan rumah dalam agama bertujuan untuk menjaga kesucian lingkungan hidup. Lingkungan yang suci dan bebas dari unsur-unsur yang dipertanyakan secara syariat akan menciptakan suasana batin yang lebih kondusif untuk beribadah. Kehadiran malaikat di dalam rumah diyakini membawa ketenangan psikologis bagi para penghuninya.

Syaikh asy-Syaqawi menambahkan bahwa penolakan malaikat untuk masuk ke dalam rumah yang memiliki anjing atau gambar menunjukkan adanya standardisasi etika dalam ruang privat seorang muslim. Rumah seharusnya menjadi tempat yang disucikan, tempat di mana doa-doa dilantunkan dan ibadah ditegakkan. Ketika sebuah rumah dipenuhi oleh elemen yang mengundang murka Allah atau melalaikan, maka korps malaikat rahmat akan menarik diri dari tempat tersebut.

Dampak dari tidak masuknya malaikat ke dalam rumah adalah hilangnya permohonan ampunan dan keberkahan dari entitas cahaya tersebut bagi penghuni rumah. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat dirasakan melalui hilangnya ketenteraman di dalam rumah tangga. Suasana panas, sering terjadi perselisihan, dan jauhnya penghuni dari semangat beribadah sering kali dikaitkan dengan hilangnya keberkahan dari rumah tersebut.

Karya Syaikh asy-Syaqawi ini mengajak masyarakat untuk kembali menata ruang hidup mereka. Seni dan hiasan tidak dilarang, namun harus ditempatkan pada proporsi yang tidak menyerupai makhluk hidup secara utuh atau disakralkan. Pemeliharaan hewan juga harus disesuaikan dengan fungsi kemaslahatan, bukan sekadar mengikuti tren estetika semata.

Pada akhirnya, aturan mengenai malaikat dan rumah adalah instrumen pendidikan moral yang agung. Rumah adalah cerminan dari hati dan akidah penghuninya. Dengan menyingkirkan elemen yang menghalangi malaikat masuk, seorang muslim sebenarnya sedang membangun benteng perlindungan spiritual yang akan menjaga keluarganya dari berbagai gangguan negatif. Kesimpulannya, ruang hidup yang bersih dari hal-hal yang dilarang adalah fondasi bagi terciptanya ketenangan, di mana rahmat Tuhan dapat turun tanpa terhalang oleh batas-batas kegaiban.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)