Tahun Baru Islam, Momentum Teladani Spirit Hijrah Rasulullah
Muhajirin
Senin, 09 Agustus 2021 - 19:56 WIB
Ilustrasi lafadz Rasulullah Muhammad bin Abdullah. Foto: Langit7.id/iStock
Peringatan Tahun BaruIslam 1443 Hijriah tidak hanya sekedar seremonial semata. Hari bersejarah bagi ummat Islamtersebutharus menjadi momentum meneladani spirit hijrah Rasulullah SAW.
Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini mengatakan, terdapat empat pesan Rasulullah SAW yang disampaikan pada khutbah pada awal masa hijrah. Pertama, menebarkan salam. Salam yang dimaksud, yakni perdamaian. Dalam konteks berbangsa dan bernegara ada irisan kemiripan struktur sosiologis masyarakat Madinah saat itu dengan Indonesia saat ini.
"Irisan keduanya pada konteks kemajemukan dan kebinekaan. Keduanya sama-sama majemuk," kata Helmy, dikutip dari laman NU, Senin (9/8/2021).
Pesan Rasulullah SAW saat itu tidak hanya berhenti pada makna tekstual atau sekadar menebarkan salam. Namun, salam harus dimaknai upaya menebarkan kedamaian serta menciptakan rasa aman bagi siapapun.
Kedua, perintah memberi makanan atau bersedekah. Pesan tersebut harus mengingatkan seluruh elemen bangsa tentang kepeduliaan sosial yang menjadi pilar penting dalam bermasyarakat.
Masyarakat yang baik harus dibangun di atas individu-individu yang memiliki kepekaan dan kepeduliaan sosial antarsesama. Baik kepeduliaan dalam konteks seagama (ukhuwah Islamiyah), kepeduliaan dalam konteks berbangsa (ukhuwah wathaniyah), dan kepeduliaan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah).
Ketiga, pesan menjalin silaturahmi. Ini merupakan aspek terpenting dalam konteks berbangsa dan bernegara. Pada 1948, Kiai Haji (KH) Abdul Wahab Chasbullah bersama Presiden Soekarno pernah menggagas silaturahim nasional para tokoh bangsa dan elite politik yang saat itu saling bertikai.
Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini mengatakan, terdapat empat pesan Rasulullah SAW yang disampaikan pada khutbah pada awal masa hijrah. Pertama, menebarkan salam. Salam yang dimaksud, yakni perdamaian. Dalam konteks berbangsa dan bernegara ada irisan kemiripan struktur sosiologis masyarakat Madinah saat itu dengan Indonesia saat ini.
"Irisan keduanya pada konteks kemajemukan dan kebinekaan. Keduanya sama-sama majemuk," kata Helmy, dikutip dari laman NU, Senin (9/8/2021).
Pesan Rasulullah SAW saat itu tidak hanya berhenti pada makna tekstual atau sekadar menebarkan salam. Namun, salam harus dimaknai upaya menebarkan kedamaian serta menciptakan rasa aman bagi siapapun.
Kedua, perintah memberi makanan atau bersedekah. Pesan tersebut harus mengingatkan seluruh elemen bangsa tentang kepeduliaan sosial yang menjadi pilar penting dalam bermasyarakat.
Masyarakat yang baik harus dibangun di atas individu-individu yang memiliki kepekaan dan kepeduliaan sosial antarsesama. Baik kepeduliaan dalam konteks seagama (ukhuwah Islamiyah), kepeduliaan dalam konteks berbangsa (ukhuwah wathaniyah), dan kepeduliaan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah).
Ketiga, pesan menjalin silaturahmi. Ini merupakan aspek terpenting dalam konteks berbangsa dan bernegara. Pada 1948, Kiai Haji (KH) Abdul Wahab Chasbullah bersama Presiden Soekarno pernah menggagas silaturahim nasional para tokoh bangsa dan elite politik yang saat itu saling bertikai.