Hasil Survei: Pandemi Tak Turunkan Konsumsi Rokok Layaknya Kebutuhan Pokok
Muhajirin
Kamis, 01 Juli 2021 - 22:59 WIB
Ilustrasi ekspresi pemilik toko yang stres karena harus menutup usahanya secara permanen akibat pembatasan pandemi Covid-19. Foto: Langit7.id/iStock
Survei Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas) menunjukkan sebanyak 77,1 persen responden dari keluarga miskin menyatakan tidak menurunkan konsumsi rokok selama pandemi. Menariknya, jumlah rokok yang dibakar para kalangan tersebut cenderung meningkat.
Survei tersebut digelar di lima wilayah aglomerasi utama di Indonesia, yakni Jakarta Raya (Jabodetabek), Semarang Raya, Surabaya Raya, Medan Raya dan Makassar Raya. Penelitian dilakukan kepada 1.013 kepala keluarga miskin secara tatap muka.
Perokok miskin berstatus kepala rumah tangga dan pencari nafkah, sebesar 73,2 persen mempertahankan pengeluaran rokoknya meski kondisi ekonomi menurun. Bahkan, Yusuf menambahkan 39,7 persen responden mengaku rela membeli lebih mahal rokok pilihannya yang di masa pandemi harganya meningkat.
"Dengan kata lain, pengeluaran kebutuhan lain yang turun atau bahkan ditiadakan agar dapat terus merokok dengan kuantitas yang sama," kata Direktur Ideas Yusuf Wibisono dalam keterangan tertulis pada, Kamis (1/7/2021).
Turunnya penghasilan secara drastis dan membuat semakin miskin, ternyata mempengaruhi perilaku perokok si miskin. Sebesar 21,2 persen responden menurunkan pengeluaran rokok-nya di masa pandemi, meski hal ini tidak selalu berimplikasi pada turunnya konsumsi rokok.
"Mereka diantaranya mengaku pada masa pandemi beralih ke rokok dengan harga yang lebih murah. Berpindah ke rokok murah membuat perokok miskin mempertahankan kuantitas konsumsi rokoknya dengan pengeluaran yang lebih rendah," tuturnya.
Krisis tidak mampu membuat si miskin mengurangi konsumsi rokoknya, terlebih berhenti darinya. Di tengah kondisi ekonomi yang kian terpuruk pun, perokok miskin tetap keras berusaha untuk dapat terus merokok.
Survei tersebut digelar di lima wilayah aglomerasi utama di Indonesia, yakni Jakarta Raya (Jabodetabek), Semarang Raya, Surabaya Raya, Medan Raya dan Makassar Raya. Penelitian dilakukan kepada 1.013 kepala keluarga miskin secara tatap muka.
Perokok miskin berstatus kepala rumah tangga dan pencari nafkah, sebesar 73,2 persen mempertahankan pengeluaran rokoknya meski kondisi ekonomi menurun. Bahkan, Yusuf menambahkan 39,7 persen responden mengaku rela membeli lebih mahal rokok pilihannya yang di masa pandemi harganya meningkat.
"Dengan kata lain, pengeluaran kebutuhan lain yang turun atau bahkan ditiadakan agar dapat terus merokok dengan kuantitas yang sama," kata Direktur Ideas Yusuf Wibisono dalam keterangan tertulis pada, Kamis (1/7/2021).
Turunnya penghasilan secara drastis dan membuat semakin miskin, ternyata mempengaruhi perilaku perokok si miskin. Sebesar 21,2 persen responden menurunkan pengeluaran rokok-nya di masa pandemi, meski hal ini tidak selalu berimplikasi pada turunnya konsumsi rokok.
"Mereka diantaranya mengaku pada masa pandemi beralih ke rokok dengan harga yang lebih murah. Berpindah ke rokok murah membuat perokok miskin mempertahankan kuantitas konsumsi rokoknya dengan pengeluaran yang lebih rendah," tuturnya.
Krisis tidak mampu membuat si miskin mengurangi konsumsi rokoknya, terlebih berhenti darinya. Di tengah kondisi ekonomi yang kian terpuruk pun, perokok miskin tetap keras berusaha untuk dapat terus merokok.