home global news

Polusi Udara Jakarta Memburuk selama PPKM Darurat Dibanding PSBB

Rabu, 11 Agustus 2021 - 02:15 WIB
Dirlantas Polda Metro Jaya mencatat, pada pelaksanaan PPKM level 4 minggu kedua terdapat kenaikan mobilitas warga Jakarta sebesar 26 persen dibanding saat PPKM darurat dan PPKM mikro. Foto: Antara
Koalisi Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (Koalisi Ibukota) menyatakan polusi udara di Jakarta memburuk pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan PPKM Level 4 yang berlaku sejak awal Juli 2021. Bondan Andriyanu dari Greenpeace Indonesia mengatakan mobilitas masyarakat yang menurun selama PPKM Darurat ternyata tidak serta merta membuat kualitas udara di Jakarta menjadi lebih baik.

Hal itu terlihat dari data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta bahwa kualitas udara di ibu kota justru lebih sering tercemar karena melampaui baku mutu polusi udara harian sebesar 55 μg/m3 untuk kandungan partikulat berukuran di bawah 2,5 mikrometer (PM 2,5). Jumlah hari dengan kualitas udara yang melampaui baku mutu tersebut meningkat signifikan pada Juli 2021 di seluruh stasiun pemantau kualitas udara di Jakarta apabila dibandingkan dengan Juni sebelum PPKM Darurat berlaku.

Sebagai contoh, kualitas udara di sekitar Bundaran Hotel Indonesia tidak pernah melampaui baku mutu pada Juni, namun pada Juli terdapat enam hari dengan polusi udara yang melampaui baku mutu tersebut. "Sepanjang bulan Juli (jumlah harinya) meningkat hingga 4-6 kali lipat dibanding pada bulan Juni," kata Bondan melalui konferensi pers virtual pada Selasa (10/8/2021).

Dia melanjutkan, kondisi ini masih lebih baik apabila dibandingkan dengan kondisi normal sebelum pandemi pada 2019. Namun, lebih buruk apabila dibandingkan dengan saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada 2020 lalu maupun saat PPKM Mikro berlaku pada awal 2021.

Selain itu, Bondan juga mengatakan jumlah hari dengan kualitas udara tidak sehat meningkat dua kali lipat pada Juli berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Ada kemungkinan curah hujan menjadi salah satu faktor mengapa kualitas udara di Jakarta lebih buruk pada Juli 2021 dibandingkan dengan awal tahun lalu.

Pasalnya, curah hujan yang lebih tinggi memungkinkan pencucian partikel di udara sehingga udara menjadi lebih bersih. Meski demikian, Bondan menilai kondisi ini juga perlu dianalisa lebih lanjut untuk memastikan penyebab pencemaran udara tersebut mengingat mobilitas penduduk selama PPKM Darurat justru menurun. Padahal data yang dikumpulkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 2019 menunjukkan bahwa moda transportasi berkontribusi sebesar 42 hingga 57 persen sebagai sumber polusi PM 2,5.

"Butuh riset resmi untuk ‘emission inventory’ sehingga kita bisa tahu sumber polutan ini dari mana sehingga mengendalikannya pun tentu akan lebih mudah karena menyasar langsung sumbernya," tuturnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
polusi udara dki jakarta sirkulasi udara ppkm covid-19
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya