Sejarah Masjid Istiqlal Jakarta, Berawal dari Diskusi Ulama di Rumah Pegangsaan 56
Fajar adhitya
Rabu, 11 Agustus 2021 - 20:02 WIB
Masjid Istiqlal Jakarta pada malam hari. (foto: LANGIT7.ID/ iStock)
Rumah Pegangsaan Timur Nomor 56 selama ini dikenal sebagai tempat Sukarno dan para tokoh perjuangan membacakan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Setahun sebelum proklamasi, rumah itu menjadi tampat diskusi ulama tentang keinginan mendirikan masjid jami di Jakarta.
Rumah seorang Belanda itu dibeli pebisnis dari Hadramaut, Yaman, Faradj Martak yang merantau ke Indonesia. Faradj menghibahkan rumah itu kepada Sukarno dengan alasan nasionalisme. Di rumah ini pula Fatmawati menjahit bendera Pusaka Kebangsaan Indonesia.
Sekarang rumah itu telah tiada. Nama lokasinya pun berubah menjadi Jalan Proklamasi, tidak jauh dari bioskop Megaria dan Stasiun Cikini, Jakarta Pusat. Patung-patung proklamator dan tugu dibangun di lokasi bekas rumah itu berdiri sebagai penanda sejarah.
Saat itu, menanggapi permintaan para ulama, Bung Karno langsung berkata, “Saya setuju sekali kita mendirikan satu masjid jami yang besar,” katanya.
Baca juga: Sejarah Masjid Istiqlal Jakarta, Sempat Tersendat di Tahun 1965
Dalam kepala Sukarno, masjid yang akan dibangun nanti haruslah megah yang melambangkan keagungan serta kejayaan bangsa Indonesia. Masjid tersebut harus abadi, kokoh menghadapi usia, tak lapuk dimakan zaman.
“Saya sebut ini akbar kerena masjid yang diangan-angan Sukarno masjid besar dan agung,” ujar Panogu Silaban, putra Fredik Silaban yang mengarsiteki pembangunan Masjid Istiqlal, dalam sebuah Seminar Masjid Istiqlal – Filosofi dan Desain belum lama ini.
Rumah seorang Belanda itu dibeli pebisnis dari Hadramaut, Yaman, Faradj Martak yang merantau ke Indonesia. Faradj menghibahkan rumah itu kepada Sukarno dengan alasan nasionalisme. Di rumah ini pula Fatmawati menjahit bendera Pusaka Kebangsaan Indonesia.
Sekarang rumah itu telah tiada. Nama lokasinya pun berubah menjadi Jalan Proklamasi, tidak jauh dari bioskop Megaria dan Stasiun Cikini, Jakarta Pusat. Patung-patung proklamator dan tugu dibangun di lokasi bekas rumah itu berdiri sebagai penanda sejarah.
Saat itu, menanggapi permintaan para ulama, Bung Karno langsung berkata, “Saya setuju sekali kita mendirikan satu masjid jami yang besar,” katanya.
Baca juga: Sejarah Masjid Istiqlal Jakarta, Sempat Tersendat di Tahun 1965
Dalam kepala Sukarno, masjid yang akan dibangun nanti haruslah megah yang melambangkan keagungan serta kejayaan bangsa Indonesia. Masjid tersebut harus abadi, kokoh menghadapi usia, tak lapuk dimakan zaman.
“Saya sebut ini akbar kerena masjid yang diangan-angan Sukarno masjid besar dan agung,” ujar Panogu Silaban, putra Fredik Silaban yang mengarsiteki pembangunan Masjid Istiqlal, dalam sebuah Seminar Masjid Istiqlal – Filosofi dan Desain belum lama ini.