LANGIT7.ID - Rumah Pegangsaan Timur Nomor 56 selama ini dikenal sebagai tempat Sukarno dan para tokoh perjuangan membacakan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Setahun sebelum proklamasi, rumah itu menjadi tampat diskusi ulama tentang keinginan mendirikan masjid jami di Jakarta.
Rumah seorang Belanda itu dibeli pebisnis dari Hadramaut, Yaman, Faradj Martak yang merantau ke Indonesia. Faradj menghibahkan rumah itu kepada Sukarno dengan alasan nasionalisme. Di rumah ini pula Fatmawati menjahit bendera Pusaka Kebangsaan Indonesia.
Sekarang rumah itu telah tiada. Nama lokasinya pun berubah menjadi Jalan Proklamasi, tidak jauh dari bioskop Megaria dan Stasiun Cikini, Jakarta Pusat. Patung-patung proklamator dan tugu dibangun di lokasi bekas rumah itu berdiri sebagai penanda sejarah.
Saat itu, menanggapi permintaan para ulama, Bung Karno langsung berkata, “Saya setuju sekali kita mendirikan satu masjid jami yang besar,” katanya.
Baca juga:
Sejarah Masjid Istiqlal Jakarta, Sempat Tersendat di Tahun 1965Dalam kepala Sukarno, masjid yang akan dibangun nanti haruslah megah yang melambangkan keagungan serta kejayaan bangsa Indonesia. Masjid tersebut harus abadi, kokoh menghadapi usia, tak lapuk dimakan zaman.
“Saya sebut ini akbar kerena masjid yang diangan-angan Sukarno masjid besar dan agung,” ujar Panogu Silaban, putra Fredik Silaban yang mengarsiteki pembangunan Masjid Istiqlal, dalam sebuah Seminar Masjid Istiqlal – Filosofi dan Desain belum lama ini.
Akan berdiri di pusat ibu kota negara, Sukarno tak mau masjid itu terlihat kuno, masjid yang hanya sekedar kayu dan genteng. “Buatlah masjid yang semegah-megahnya dan bisa memberi tempat sembahyang hingga 70.000 manusia.”
Kata-kata Sukarno ini dipaparkan Panogu Silaban dari kliping koran pemberitaan masa lalu yang menjadi materi pembicaraannya. Semuanya ditulis dengan ejaan lama dan hampir tidak terbaca huruf-hurufnya karena proses digitalisasi.
Sukarno juga ingin masjid tersebut dirancang dengan gaya arsitektur yang lestari dan tak lekang oleh zaman. Bukan masjid yang universal, bukan bersifat kedaerahan atau kesukuan. Ia menyebutnya sebagai stijl (gaya, bahasa belanda) yang timeless.
“Marilah kita membuat masjid jami yang benar-benar tahan cakaran masa, seribu tahun, dua ribu tahun, dan untuk itu kita harus membuatnya dari besi, dari beton. Pintunya dari perunggu, dari batu pualam dan lain-lain sebagainya,” kata Sukarno.
Nama Istiqlal muncul pada lima tahun setelah kemerdekaan dalam pembahasan rencana pembangunan. Dalam pertemuan yang diadakan Menteri Agama KH Wahid Hasyim dan H Anwar Tjokroaminoto dari Partai Syarikat Islam dnegan para tokoh Islam.
Pertemuan itu menyepakati Istiqlal menjadi nama calon masjid megah ala Sukarno yang berarti kebebasan, lepas atau kemerdekaan. Intinya adalah menggambarkan rasa syukur kepada Allah atas limphan rahmat berupa kemerdekaan.
(sof)