Asupan Ikan Berminyak ala Diet Mediterania Kurangi Migrain
Ilham
Senin, 05 Juli 2021 - 06:05 WIB
Ilustrasi menu ikan berminyak. Sebuah studi menyatakan asam lemak Omega 3 dalam ikan berminyak mampu kurangi frekuensi migrain. Foto: Langit7.id/Istock
Tinggal di dekat laut, orang-orang Mediterania menyantap ikan berminyak hampir setiap hari, seperti salmon, makarel, sarden, dan tuna. Dari situlah asupan Omega 3 mereka peroleh. Dan, data terbaru menyatakan asam lemak ini mampu mengurangi migrain.
Melansir laman The Guardian, pekan lalu, studi terkait konsumsi ikan berminyak dan pengaruhnya terhadap migrain dilakukan Dr Christopher Ramsden dari National Institute on Aging. Bersama rekan-rekannya, ia merekrut 182 pasien penderita migrain yang mendapat serangan mulai lima hingga 20 hari dalam sebulan.
Secara acak tim penelitiannya menugaskan mereka menjalani satu dari tiga pola makan selama 16 minggu. Pertama, diet yang meningkatkan Omega-3 tetapi mempertahankan kadar normal Omega-6. Kedua, diet yang meningkatkan Omega-3 dan menurunkan Omega-6 dan ketiga, diet kontrol yakni menyertakan kedua asam lemak dalam kadar serupa.
Diet dirancang semirip mungkin satu sama lain. Perbedaan utama adalah jenis minyak atau mentega, dan sumber utama protein (telur, ikan, unggas) yang diterima peserta.
Penelitian yang diterbitkan di British Medical Journal. Studi mengungkapkan dua diet pertama ternyata meningkatkan kadar oxylipin, hormon pengurang rasa sakit, dibandingkan dengan diet kontrol.
Diet itu juga secara signifikan mengurangi frekuensi migrain pada penderita. Rinciannya, kekerapan serangan berkurang 1,3 jam sakit kepala per hari dan dua hari sakit kepala (kumulatif) per bulan bagi mereka yang berada dalam kelompok omega-3 tinggi.
Kemudian ada pengurangan 1,7 jam sakit kepala per hari dan sakit kepala empat hari per bulan bagi mereka yang berdiet dengan asupan tinggi omega-3 namun rendah omega-6.
Melansir laman The Guardian, pekan lalu, studi terkait konsumsi ikan berminyak dan pengaruhnya terhadap migrain dilakukan Dr Christopher Ramsden dari National Institute on Aging. Bersama rekan-rekannya, ia merekrut 182 pasien penderita migrain yang mendapat serangan mulai lima hingga 20 hari dalam sebulan.
Secara acak tim penelitiannya menugaskan mereka menjalani satu dari tiga pola makan selama 16 minggu. Pertama, diet yang meningkatkan Omega-3 tetapi mempertahankan kadar normal Omega-6. Kedua, diet yang meningkatkan Omega-3 dan menurunkan Omega-6 dan ketiga, diet kontrol yakni menyertakan kedua asam lemak dalam kadar serupa.
Diet dirancang semirip mungkin satu sama lain. Perbedaan utama adalah jenis minyak atau mentega, dan sumber utama protein (telur, ikan, unggas) yang diterima peserta.
Penelitian yang diterbitkan di British Medical Journal. Studi mengungkapkan dua diet pertama ternyata meningkatkan kadar oxylipin, hormon pengurang rasa sakit, dibandingkan dengan diet kontrol.
Diet itu juga secara signifikan mengurangi frekuensi migrain pada penderita. Rinciannya, kekerapan serangan berkurang 1,3 jam sakit kepala per hari dan dua hari sakit kepala (kumulatif) per bulan bagi mereka yang berada dalam kelompok omega-3 tinggi.
Kemudian ada pengurangan 1,7 jam sakit kepala per hari dan sakit kepala empat hari per bulan bagi mereka yang berdiet dengan asupan tinggi omega-3 namun rendah omega-6.