Potret Mualaf di Pelosok Kalimantan, dari Tak Punya Alquran hingga Pakaian Ibadah (Habis)
Muhajirin
Senin, 05 Juli 2021 - 17:14 WIB
ilustrasi anak-anak muslim bermain. (foto:/LANGIT7.ID/ iStock)
Komunitas mualaf di Kampung Biatan Bapinang, Kalimantan Timur terus bertumbuh. Semangat warga untuk belajar mengaji dan memperdalam ilmu agama makin tinggi. Hingga saat ini sudah ada puluhan masyarakat setempat yang memutuskan menjadi mualaf. Mereka tertarik dengan konsep rahmatan lil-alamin dalam Islam.
Bermula dari gotong-royong menanam padi gunung. Ustaz Sultan Ma'ruf pembiana mualaf di Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, Berau, Kalimantan Timur memperlihatkan keindahan ajaran Islam melalui ahlak karimah. "Tanam padi di masyarakat itu, sampai ada 100 orang, 70 orang dalam menanam padi dalam satu kelompok. Itu campur orang Islam dan nonmuslim. Alhamdulillah di situ kita bisa berbaur," ucapnya, kepada LANGIT7.
Akan tetapi, tantangan dakwah rupanya jauh lebih berat. Sultan mengatakan, banyak mualaf yang goyah imannya setelah bersyahadat. Ada banyak penyebab, salah satunya perekonomian.
"Kami tidak semata-mata untuk pembinaan di dalam masjid saja, karena rupanya dalam bentuk pembinaan dalam masjid tidak membuahkan hasil yang maksimal. Ternyata berdakwah itu, selain di dalam masjid, kita juga harus banyak berkoordinasi di luar masjid," ucap dia.
Dia menyadari bahwa dakwah tak hanya seputar fikih. Dakwah secara ekonomi pun sangat penting. Selain mengajari salat yang benar serta membaca Alquran, dia mempunya program tani dan ternak untuk membangkitkan perekonomian para mualaf.
"Kami membuat kelompok tani ternak yang dievaluasi perkembanganya setiap bulan sekaligus diskusi keagamaan," ucap dia.
Selain itu, Sultan bersama komunitas Pembina Mualaf berencana membuat pelatihan tata boga, menjahit, dan pertukangan. Pelatihan tersebut guna menguatkan pondasi perekonomian para mualaf.
Bermula dari gotong-royong menanam padi gunung. Ustaz Sultan Ma'ruf pembiana mualaf di Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, Berau, Kalimantan Timur memperlihatkan keindahan ajaran Islam melalui ahlak karimah. "Tanam padi di masyarakat itu, sampai ada 100 orang, 70 orang dalam menanam padi dalam satu kelompok. Itu campur orang Islam dan nonmuslim. Alhamdulillah di situ kita bisa berbaur," ucapnya, kepada LANGIT7.
Akan tetapi, tantangan dakwah rupanya jauh lebih berat. Sultan mengatakan, banyak mualaf yang goyah imannya setelah bersyahadat. Ada banyak penyebab, salah satunya perekonomian.
"Kami tidak semata-mata untuk pembinaan di dalam masjid saja, karena rupanya dalam bentuk pembinaan dalam masjid tidak membuahkan hasil yang maksimal. Ternyata berdakwah itu, selain di dalam masjid, kita juga harus banyak berkoordinasi di luar masjid," ucap dia.
Dia menyadari bahwa dakwah tak hanya seputar fikih. Dakwah secara ekonomi pun sangat penting. Selain mengajari salat yang benar serta membaca Alquran, dia mempunya program tani dan ternak untuk membangkitkan perekonomian para mualaf.
"Kami membuat kelompok tani ternak yang dievaluasi perkembanganya setiap bulan sekaligus diskusi keagamaan," ucap dia.
Selain itu, Sultan bersama komunitas Pembina Mualaf berencana membuat pelatihan tata boga, menjahit, dan pertukangan. Pelatihan tersebut guna menguatkan pondasi perekonomian para mualaf.