LANGIT7.ID - Komunitas mualaf di Kampung Biatan Bapinang, Kalimantan Timur terus bertumbuh. Semangat warga untuk belajar mengaji dan memperdalam ilmu agama makin tinggi. Hingga saat ini sudah ada puluhan masyarakat setempat yang memutuskan menjadi mualaf. Mereka tertarik dengan konsep rahmatan lil-alamin dalam Islam.
Bermula dari gotong-royong menanam padi gunung. Ustaz Sultan Ma'ruf pembiana mualaf di Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, Berau, Kalimantan Timur memperlihatkan keindahan ajaran Islam melalui ahlak karimah. "Tanam padi di masyarakat itu, sampai ada 100 orang, 70 orang dalam menanam padi dalam satu kelompok. Itu campur orang Islam dan nonmuslim. Alhamdulillah di situ kita bisa berbaur," ucapnya, kepada LANGIT7.
Akan tetapi, tantangan dakwah rupanya jauh lebih berat. Sultan mengatakan, banyak mualaf yang goyah imannya setelah bersyahadat. Ada banyak penyebab, salah satunya perekonomian.
"Kami tidak semata-mata untuk pembinaan di dalam masjid saja, karena rupanya dalam bentuk pembinaan dalam masjid tidak membuahkan hasil yang maksimal. Ternyata berdakwah itu, selain di dalam masjid, kita juga harus banyak berkoordinasi di luar masjid," ucap dia.
Dia menyadari bahwa dakwah tak hanya seputar fikih. Dakwah secara ekonomi pun sangat penting. Selain mengajari salat yang benar serta membaca Alquran, dia mempunya program tani dan ternak untuk membangkitkan perekonomian para mualaf.
"Kami membuat kelompok tani ternak yang dievaluasi perkembanganya setiap bulan sekaligus diskusi keagamaan," ucap dia.
Selain itu, Sultan bersama komunitas Pembina Mualaf berencana membuat pelatihan tata boga, menjahit, dan pertukangan. Pelatihan tersebut guna menguatkan pondasi perekonomian para mualaf.
Setelah itu, ia juga membuat kelompok mengaji dan kelompok kajian(LiQA). Kelompok tersebut menguarkan keimanan dan ketakwaan para mualaf.
Mualaf Enggan ke Mesjid karena Tak Punya Perlengkapan Ibadah Sultan menceritakan kendala terberat selama membina mualaf. Letak perkampungan Biatan Bapinang sangat jauh dari perkotaan. Untuk ke kota kabupaten saja membutuhkan 4 sampai 5 jam perjalanan.
Selain kendala geografis, tantangan terberat adalah kondisi perekonomian mualaf, dan masyarakat setempat pada umumnya. Dia berharap masyarakat muslim yang memiliki kecukupan harta bisa berbagi, demi membantu mengokohkan iman mereka.
"Dana itu yang menjadi kendala, karena anak-anak muallaf yang kami bina itu, suruh beli iqro saja banyak yang berhenti ngaji, karena orang tuanya tidak sanggup membeli, tidak cukup uang untuk beli itu," ucap dia.
"Kadang kala kami juga suruh salat, mereka malah berhenti ke mesjid, karena jilbab mereka sangat terbatas, yang mereka miliki. Itu khusus anak anak mualaf," imbuhnya.
Sultan menuturkan, kendala terbesar saat ini adalah memfasilitasi mereka dengan alat kelengkapan ibadah. Iqro' dan Alquran untuk mengaji, serta pakaian salat.
"Kendala kita dalam pembinaan anak mualaf itu, itu tadi masalah iqro' dengan fasilitas mereka untuk solat dan pakaian solatnya," ucap dia.
Di sisi lain, Sultan yang juga guru itu merasa iba dengan kondisi masyarakat setempat. Perekonomian sangat lemah yang berdampak situasi yang mengharuskan anak-anak putus sekolah.
"Untuk para mualaf yang ada di sana, perekonomiannya hanya cukup untuk menghidupi kesehariannya saja. Jadi kebanyakan mereka kurang lanjut sekolah, karena dari sisi perekonomian," ucap dia.
Mencari solusi masalah itu bukan perkara mudah. Sultan hanya bisa membina mereka mengelola pertanian dan peternakan agar lebih modern. Tak hanya itu, dia mengajari cara berbisnis hasil bumi untuk kelanjutan hidup mereka.
"Ke depaanya bagaimana perekonomian mereka bisa bangkit, sehingga anak-anak mereka itu bisa lanjut sekolah seperti masyarakat pada umumnya. Kelihatannya para muallaf di sana, kalau kita tidak turun terjun langsung untuk pembinaan mereka, sepertinya mereka ke depan menjadi pembantu di negerinya sendiri, atau di kampungnya sendiri," ucap dia.
Sultan menambahkan komunitas ini diuntungkan saat Idul Adha 2019 lalu. Waktu itu ada bantuan daging kurban dari salah satu anggota dewan berupa satu ekor sapi. "Kami buatkan kupon sebanyak 250 kupon. Alhamdulillah pada saat itu, masyarakat muslim dan nonmuslim kami bagikan satu desa. Mereka dapat daging sekitar 3 sampai 4 ons per satu kupon," ucap dia.
Rupanya, momen itu sangat berbekas bagi masyarakat setempat. Mereka kembali semangat ke masjid. Masjid jadi ramai dengan berbagai kegiatan.
"Masjid sudah mulai hidup, yang kemarin tidur, tidak terurus, sudah mulai kembali. Sudah mulai ada azan, ada makmun, alhamdulillah sampai sekarang, walaupun belum seperti masjid pada umumnya," tutur Sultan.
Dia lalu mengajak para umat Islam yang memiliki perekonomian cukup untuk memperhatikan kondisi umat Islam di pelosok daerah. Mereka tak pernah tersorot, sehingga keberadaannya seolah terlupakan. (habis)
(sof)