Din: Indonesia Dapat Ambil Peran Konkrit terhadap Palestina
Andi Muhammad
Jum'at, 30 September 2022 - 16:21 WIB
Din: Indonesia Dapat Ambil Peran Konkrit terhadap Palestina. Foto: Langit7.id/iStock.
Persoalan Palestina selalu menjadi sorotan dan fokus berbagai pihak. Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin mengatakan, two states solution sudah merupakan kesepakatan internasional dan juga oleh kedua belah pihak Israel dan Palestina.
Namun di sisi lain Palestina memiliki perbedaan pendapat dengan Israel. Hal ini disampaikan Din dalam diskusi webinar yang bertajuk 'Solusi 2 Negara Israel dan Palestina' Kamis (29/9/2022) malam WIB.
Fatah sejak dulu, kata Prof Din, menginginkan sebuah penyelesaian terhadap konflik tersebut secara diplomatik. Namun berbeda dengan pihak Hamas yang tidak setuju terhadap penyelesaian secara diplomatik yang sangat panjang.
"Itu yang saya kira tidak selesai dan kemudian dunia Islam juga terbelah," ujarnya.
Baca Juga:Begini Cara Israel Rusak Kepercayaan Palestina atas Indonesia
Lebih jauh, Prof Din mengatakan, permasalahan lainnya yang membuat two states tak kunjung usai yakni perpecahan antara negara-negara Islam. "Ada yang pro ke Fatah dan ada yang pro ke Hamas," ujarnya.
Di sisi lain, Prof Din menuturkan, kekuasaan berpendapat lebih condong ke Israel ketimbang Palestina. Hal ini yang menjadi sorotan masalah yang menimbulkan persoalan global injustice dan double standard.
Namun di sisi lain Palestina memiliki perbedaan pendapat dengan Israel. Hal ini disampaikan Din dalam diskusi webinar yang bertajuk 'Solusi 2 Negara Israel dan Palestina' Kamis (29/9/2022) malam WIB.
Fatah sejak dulu, kata Prof Din, menginginkan sebuah penyelesaian terhadap konflik tersebut secara diplomatik. Namun berbeda dengan pihak Hamas yang tidak setuju terhadap penyelesaian secara diplomatik yang sangat panjang.
"Itu yang saya kira tidak selesai dan kemudian dunia Islam juga terbelah," ujarnya.
Baca Juga:Begini Cara Israel Rusak Kepercayaan Palestina atas Indonesia
Lebih jauh, Prof Din mengatakan, permasalahan lainnya yang membuat two states tak kunjung usai yakni perpecahan antara negara-negara Islam. "Ada yang pro ke Fatah dan ada yang pro ke Hamas," ujarnya.
Di sisi lain, Prof Din menuturkan, kekuasaan berpendapat lebih condong ke Israel ketimbang Palestina. Hal ini yang menjadi sorotan masalah yang menimbulkan persoalan global injustice dan double standard.