Pameran Batik Nitik Tampilkan 80 Lebih Motif Kain Batik
Hasanah syakim
Jum'at, 28 Oktober 2022 - 17:32 WIB
Pengunjung melihat koleksi batik dalam Pameran Batik Nitik yang digelar di Museum Tekstil, Jakarta (foto: istimewa)
Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI Jakarta melalui Unit pengelola (UP) Museum Seni mengelar Pameran Batik Nitik, bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia hingga 12 November 2022 mendatang.
Pameran kali ini mengusung tema "Keindahan Dalam Kesederhaaan" menampilkan lebih dari 80 motif kain Batik Nitik di Museum Tekstil, Jakarta Pusat. Pameran ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional dan Hari Museum Indonesia.
Direktur Jenderal Kebudayaan (Kemendikbudristek), Hilmar Farid menyampaikan batik memiliki sejarah yang panjang, dan secara khusus perjalanan batik dari Jogjakarta ini di mulai dari abad ke-18.
Baca juga:Museum Benteng Vredeburg, Wisata Sejarah Populer di Yogyakarta
"Batik ini semacam bentuk perlawanan terhadap dominasi kolonial di masa itu, yang menguasai pasar India dan sebagai reaksi terhadap itu para pengrajin, dan seniman di Yogyakarta kemudian membuat motip batik nitik," katanya Hilmar Farid dikutip Jumat (28/10/2022).
Hilmar menjelaskan masyarakat Indonesia menggunakan batik secara luas, sehingga tidak lagi bergantung pada impor kain dari India.
"Dan ini saya kira adalah rekaman sejarah yang membuktikan bahwa bagi kita pakaian, makanan sandang, dan pangan lebih dari sekadar pelengkap kebutuhan kita sehari-hari. Tapi juga bagian dari identitas," ungkapnya.
Pameran kali ini mengusung tema "Keindahan Dalam Kesederhaaan" menampilkan lebih dari 80 motif kain Batik Nitik di Museum Tekstil, Jakarta Pusat. Pameran ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional dan Hari Museum Indonesia.
Direktur Jenderal Kebudayaan (Kemendikbudristek), Hilmar Farid menyampaikan batik memiliki sejarah yang panjang, dan secara khusus perjalanan batik dari Jogjakarta ini di mulai dari abad ke-18.
Baca juga:Museum Benteng Vredeburg, Wisata Sejarah Populer di Yogyakarta
"Batik ini semacam bentuk perlawanan terhadap dominasi kolonial di masa itu, yang menguasai pasar India dan sebagai reaksi terhadap itu para pengrajin, dan seniman di Yogyakarta kemudian membuat motip batik nitik," katanya Hilmar Farid dikutip Jumat (28/10/2022).
Hilmar menjelaskan masyarakat Indonesia menggunakan batik secara luas, sehingga tidak lagi bergantung pada impor kain dari India.
"Dan ini saya kira adalah rekaman sejarah yang membuktikan bahwa bagi kita pakaian, makanan sandang, dan pangan lebih dari sekadar pelengkap kebutuhan kita sehari-hari. Tapi juga bagian dari identitas," ungkapnya.