LANGIT7.ID, Jakarta - Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI Jakarta melalui Unit pengelola (UP) Museum Seni mengelar Pameran Batik Nitik, bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia hingga 12 November 2022 mendatang.
Pameran kali ini mengusung tema "Keindahan Dalam Kesederhaaan" menampilkan lebih dari 80 motif kain Batik Nitik di Museum Tekstil, Jakarta Pusat. Pameran ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional dan Hari Museum Indonesia.
Direktur Jenderal Kebudayaan (Kemendikbudristek), Hilmar Farid menyampaikan batik memiliki sejarah yang panjang, dan secara khusus perjalanan batik dari Jogjakarta ini di mulai dari abad ke-18.
Baca juga: Museum Benteng Vredeburg, Wisata Sejarah Populer di Yogyakarta"Batik ini semacam bentuk perlawanan terhadap dominasi kolonial di masa itu, yang menguasai pasar India dan sebagai reaksi terhadap itu para pengrajin, dan seniman di Yogyakarta kemudian membuat motip batik nitik," katanya Hilmar Farid dikutip Jumat (28/10/2022).
Hilmar menjelaskan masyarakat Indonesia menggunakan batik secara luas, sehingga tidak lagi bergantung pada impor kain dari India.
"Dan ini saya kira adalah rekaman sejarah yang membuktikan bahwa bagi kita pakaian, makanan sandang, dan pangan lebih dari sekadar pelengkap kebutuhan kita sehari-hari. Tapi juga bagian dari identitas," ungkapnya.
Hilmar mengapresiasi atas terselenggaranya
Pameran Batik Nitik "Keindahan Dalam Kesederhanaan", yang diselenggarakan oleh Museum Tekstil.
"Tentu pameran ini di samping mengurai kembali perjalanan sejarah yang panjang, juga ingin melihat langkah ke depan dan tempat dari kain batik hari ini seperti apa," ujarnya.
Hilmar juga mencatat, batik nitik yang saat ini dipamerkan sudah memiliki indikasi geografis dan menjadi modal yang penting bagi masyarakat untuk berkiprah di dunia internasional.
"Menghadirkan batik secara spesifik dengan indikasi geografiss, sehingga kekayaan intelektual kita ini benar-benar terlindungi, dan ketika memasuki dunia internasional juga sudah jelas pijakannya di dalam sistem hukum kita," tutur dia.
Baca juga: Wisata ke Museum Sumpah Pemuda, Ada di Daerah Senen JakartaSelanjutnya, Hilmar juga mengungkapkan terkait pengembangan batik ke depan, yang tentunya ada berbagai tantangan yang akan dihadapi.
"Seperti kita tahu industri tekstil masih cukup besar ketergantungannya kepada impor, kita memerlukan lebih banyak lagi upaya untuk gantikan apa yang kita impor saat ini
"Terutama bahan-bahan dari dalam negeri sehingga TKDN kita ini juga bisa meningkat catatan lain, mungkin bisa dipikirkan nanti ke depan soal pewarna alam yang kita tahu penggunaan bahan kimia semakin banyak," katanya.
Menurut Hilmar, untuk mewarnai kain-kain tentu punya akibat juga ke lingkungan, dan di beberapa tempat di Jawa sudah menjadi semacam konser bagi pemerintah daerah, serta para komunitas yang hidup di sepanjang bantaran sungai.
"Karena seringkali limbah dari pewarnaan ini kemudian mengganggu keutuhan dan kelestarian langsung sumber daya alam kita, jadi mungkin ini kesempatan yang baik untuk kembali mengangkat bahan-bahan lokal yang lebih ramah lingkungan," ungkapnya.
Dengan memakai pewarna alam dan lainnya sehingga upaya untuk melestarikan batik nitik, sekaligus menggerakan upaya untuk melestarikan alam.
"Sejatinya kebudayaan kita sangat bergantung kepada kelestarian alam, dan saya kira ini adalah masa depan dari wastra kita baik batik, tenun dan lain-lain yang lebih bersahabat dengan lingkungan sehingga kelestariannya sama-sama bisa dijaga," tegasnya.
(sof)