LANGIT7.ID-, Yogyakarta - - Di sebuah sudut
Gunung Kidul, karya tenun tradisional masih bertahan berkat kegigihan Suyatmi, pemilik Lurik Auliya. Sejak 2004, ia memulai perjalanan sebagai
perajin lurik dengan menggunakan alat tenun tradisional.
"Sejak kecil sebenarnya sudah belajar tenun, tapi mulai menekuni sejak setelah
menikah pada 2004," ujar Suyatmi saat ditemui di kediamannya di Dusun Jeruk Legi, Desa Katongan, Kec. Nglipar, Gunung Kidul.
Pada awalnya, Suyatmi hanya bisa membuat tenun kasar. Namun, usai mendapat pelatihan, ia bisa membuat
tenun halus, bahkan membuat produk turunannya seperti pakaian hingga tas.
Baca juga: Aloe Land: Kampung Edukasi Lidah Buaya, Berdayakan Gunung KidulSuyatmi mendapat support atau dukungan dari Dompet Dhuafa pada 2007. Sejak saat itu, tempat produksi yang ia kelola berkembang.
Dompet Dhuafa memberikan pelatihan untuk meningkatkan kualitas produksi.
Dompet Dhuafa menawarkan modal serta peralatan tenun yang lebih modern untuk membantu pengembangan usaha. Hasilnya, Lurik Auliya mulai berkembang. Ibu Suyatmi mengajak warga sekitar untuk terlibat dalam proses produksi dan
pemasaran.
"Alhamdulillah, sekarang kami sudah punya brand masing-masing. Dulu kami hanya beranggotakan tujuh orang, tapi sekarang usaha ini sudah melibatkan banyak warga," ungkapnya.
Meski usaha terus bertumbuh, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah persaingan dengan produk lurik mesin, yang mampu memproduksi kain hingga ratusan meter dalam waktu singkat. Sebaliknya, proses pembuatan lurik tradisional membutuhkan waktu beberapa hari hanya untuk menghasilkan beberapa meter kain.
Baca juga: Batik Tulis Berkah Lestari: Meneruskan Tradisi, Menembus Pasar InternasionalNamun, Suyatmi yakin, nilai tradisional tetap memiliki tempat di hati konsumen.
"Orang yang menyukai nilai-nilai tradisional pasti mencari lurik yang dibuat secara manual. Mereka adalah penjaga tradisi yang membantu kami bertahan," tambahnya.
(est)