LANGIT7.ID-, Yogyakarta - - Aloe Land, sebuah kampung edukasi di Jeruklegi RT06/RW05, Katongan, Nglipar, Gunungkidul, kini menjadi
destinasi wisata sekaligus pusat pemberdayaan berbasis tanaman
lidah buaya.
Di tempat ini, pengunjung tidak hanya diajak mengenal lidah buaya, tetapi juga belajar cara menanam dan mengolahnya menjadi berbagai produk bernilai jual tinggi.
Alan Effendhi, penggagas Aloe Land dan penerima penghargaan kategori
Kewirausahaan dalam Astra Satu Indonesia Awards 2023, telah mengembangkan budidaya lidah buaya sejak 2014.
Baca juga: 7 Destinasi Wisata Edukasi Anak di JabotabekBisnis minuman
aloevera miliknya didirikan bukan sekadar bisnis untuk mencari keuntungan pribadi. Ada banyak latar belakang dan cita-cita yang membuat ceritanya sangat menginspirasi.
Gunung Kidul terkenal dengan tanah tadah hujan. Artinya ketika tidak ada hujan atau saat kemarau, tanah di daerah tersebut menjadi tidak produktif.
Akhirnya muncul ide untuk mengembangkan tanaman lidah buaya. Kemudian dari referensi yang dia dapat, lidah buaya juga bisa diolah menjadi minuman yang memiliki kandungan yang baik untuk tubuh
"Saya memilih lidah buaya karena potensinya besar, terutama dalam industri
kosmetik,
farmasi, pupuk organik, hingga makanan dan minuman. Akhirnya, saya fokus pada makanan dan minuman karena biayanya lebih terjangkau," ujar Alan saat ditemui di lokasi.
Alan mengawali perjalanan ini setelah memutuskan pulang kampung pada 2013. Ia melihat peluang besar dalam pertanian, meskipun iklim Gunungkidul yang kering menjadi tantangan tersendiri.
Niat membangun usaha tersebut diawali dari keinginan Alan untuk tinggal di kampung halaman, menemani orang tua yang kian bertambah usia. Lebih dari itu dia juga ingin usaha yang dia jalani berdampak untuk lingkungannya.
Baca juga: Urban Healing Garden Cibubur, Alternatif Wisata Edukasi di Jakarta"Saya katakan ke ibu, 'dalam 5–10 tahun, budidaya lidah buaya ini bisa meningkatkan perekonomian masyarakat'," katanya optimistis.
Seiring waktu, Aloe Land terus berkembang. Pada 2017,
Dompet Dhuafa datang membawa program Didik Gratis untuk memberdayakan ekonomi masyarakat.
Melalui program ini, budidaya lidah buaya di Aloe Land dapat berkembang dengan baik dan menjadi ciri khas Gunung Kidul.
Kini, Aloe Land tidak hanya menjadi pusat pelatihan pertanian lidah buaya, tetapi juga tempat
wisata edukasi yang menarik perhatian wisatawan.
Alan berharap, inovasi ini mampu membawa manfaat jangka panjang bagi masyarakat Gunung Kidul, baik dalam sektor ekonomi maupun sosial.
"Alhamdulillah makin ke sini makin berkembang.
Alhamdulillah, aloevera bisa menjadi ciri khas produk Gunung Kidul," pungkas Alan.
Baca juga: Museum Subak jadi Sarana Wisata Edukasi di Bali(est)