LANGIT7.ID–Denpasar; Lokakarya Pembuatan Batik digelar dalam rangkaian perhelatan kebudayaan internasional CHANDI 2025 yang diselenggarakan di The Meru Sanur, Denpasar. Hadirkan pengalaman langsung bagi para delegasi dan tamu undangan, para peserta dapat mencoba secara langsung bagaimana cara membuat batik.
Lokakarya pembuatan batik dipandu oleh Muhammad Taufan Wicaksono Muhammad Rizqi Darmawan, perajin batik asal Laweyan, Surakarta. Di awal sesi para peserta dijelaskan tentang batik sebagai salah satu wastra asli Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO. Batik pun menjadi identitas bangsa Indonesia.
Taufan, perajin Batik Mahkota Laweyan, memaparkan bahwa batik setiap tahun kita peringati sebagai bagian dari upaya pelestarian. “Tanggal 2 Oktober adalah Hari Batik yang selalu kita peringati,” ungkapnya seraya menanyakan kepada para peserta mengenai pengalaman membatik yang pernah dilakukan oleh para peserta sebelumnya, dikutip Jumat (5/9/2025).
Sebelum peserta mencoba secara langsung proses membatik, Taufan memperkenalkan alat untuk membuat batik. “Ini adalah canting. Ibaratnya kalau kita menulis, ini seperti pensilnya. Kita akan menorehkan lilin yang dipanaskan ini di atas kain. Setelah mencanting akan ada proses
coloring menggunakan pewarna remasol,” jelas Taufan.
Taufan juga menjelaskan kepada 38 peserta yang hadir untuk berhati-hati dalam proses pencantingan karena jika terjadi kesalahan dalam proses ini, maka akan berpengaruh terhadap hasil setelah pewarnaan.
Para peserta selanjutnya dipandu untuk menorehkan lilin panas diatas sehelai kain menggunakan canting sesuai pola yang telah disediakan. Selanjutnya kain yang telah dicanting diberi warna dengan teknik colet.
Antusiasme para peserta dalam mencoba membuat batik ini menjadi sebuah kesan pengalaman yang berharga. “Pengalaman yang sangat luar biasa untuk saya. Ketika kita melihat pembatik, rasanya seperti mudah sekali. Tapi ketika kita praktik, ternyata tidak semudah yang kita lihat,” ungkap Fine, salah seorang peserta asal Maluku.
Batik merupakan warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang telah diajarkan secara turun-temurun dan menjadi kewajiban kita untuk terus menjaga keberlanjutannya di masa depan. “
Culture for the Future” sebagai tema yang diusung dalam gelaran CHANDI 2025 ini menjadi pengingat bagi kita untuk terus menjaga warisan batik agar tetap lestari.
(lam)